Sebastian Cofee Shop

Mereguk Kopi Hangat Dalam Kontainer Tua
Bisnis kafe terlihat jenuh.  Namun, bukan berarti tak berpeluang lagi.  Kafe bukan hanya sekadar menjajakan kopi, minuman atau makanan.  Lebih dari itu, kafe dapat bersaing ketika pemilik bersenjatakan konsep unik, kreatif dan inovatif.
      

Konsep unik, inovatif dan kreatif tak harus wah dan mahal. Adalah Sebastian Coffee Shop , sebuah kafe berkonsep industrial recycle yang berlokasi di Jl. Veteran Raya No. 11 A , Bintaro , Jakarta Selatan.  Nyaman dalam keunikan, menjadi suguhan khas yang membedakan dengan kafe lain.

Tak mengherankan bila salah satu sudut faforit di cafee ini dibuat dengan container tua.  “Saya membutuhkan 2 kontainer berukuran 20 feet dan 40 feet untuk membuat sudut itu.  Dengan harga masing-masing Rp 20 juta dan Rp 40 juta, papar Stefani Sebastian, pemilik Sebastian Cafee.  Dibutuhkan waktu 6 bulan untuk membangun konstruksi awal sudut dari container itu.  Konsep daur ulang juga tercermin dari perabotan yang terdapat di dalam Sebastian Cafee.  Lantai yang terbuat dari kayu bekas dan Kursi sofa yang terbuat dari kayu bekas kemasan kabel listrik.

Ide awalnya bermula dari bisnis yang digeluti oleh orang tuanya yang berkecimpung di bidang pengolahan biji kopi.  Bisnis ini merupakan bisnis hulu sampai hilir.  Dimulai dari menanam kopi, pengolahan, hingga penyajian di cafee.  Mekipun usia cafee ini belum genap 1 tahun, namun berkat keunikan seting lokasi membuat Sebastian Cafee berhasil merekrut banyak pelanggan.

Cafee ini menyajikan blend  kopi yang terbuat dari campuran arabika dan robusta.  Setiap 2 bulan , cafee ini membutuhkan pasokan biji kopi sebanyak 15 kg.   Sementara itu, jumlah tamu yang berkunjung ke tempat ini mencapai 20 meja pada hari libur.  Setiap meja biasanya berisi 6 orang.  Sedangkan pada hari biasa , jumlah kunjungan sebanyak 10 meja.  Ada sekitar 20 menu minuman kopi yang disajikan disini.  Anda bisa memesan dalam versi panas atau dingin.  Konsumen berusia muda biasanya lebih menyukai kopi dingin, sedangkan konsumen tua lebih menyukai kopi panas. Selain kopi, Sebastian juga menyajikan the dan cokelat.

Aneka menu kopi tersebut dibandrol dengan kisaran harga Rp 14.000 – 39.000.  Menu kopi yang terlaris yaitu Americano, Cappucino dan Flavour.  Untuk memasarkan tempat minum kopi ini, Stefani melakukan beberapa cara.  Diantaranya yaitu menyebar brosur, melalui sosial media, mengikuti acara di universitas dan melalui komunitas. Untuk mendirikan cafee, lingkungan harus diperhatikan.  Disarankan tidak banyak pesaing dan berlokasi di keramaian.

 

Yatai Angkringan Ala Jepang

Sajikan Aneka Sushi Beromzet Rp 1 juta / Malam
 Ketika berkunjung ke warung sega kucing Anda akan berjumpa dengan susu jahe, dan aneka gorengan, sementara di yatai Anda akan disuguh aneka sushi, sajian khas Jepang.

 

Yatai yang dalam bahasa jepang berarti stand, booth, warung kaki lima, atau bisa di sebut juga warung angkringan.  Dalam bahasa jawa  sega kucing  alias HIK (HIdangan Istimewa Kampung). Bila  di amati, banyak kesamaan antara Yatai jepang dan warung Angkringan Yogya.  Yatai, biasanya beraktifitas pada musim semi di pinggir jalan, saat sore hari dan tutup pada malam hari atau bahkan biasanya ada yang sampai subuh.

Yatai tersebar hampir di semua daerah  Jepang.  Namun,  Prefektur Fukuoka (pulau Kyushu) menjadi tempat yang paling terkenal bagi Yatai.  Ada lebih dari 150 Yatai di seluruh kota, dengan konsentrasi tertinggi di kabupaten Nakagawa dan Tenjin terletak di pusat,umumnya di dekat eki (stasiun subway).  Minuman  yang mereka jual biasanya  Jepang, bir dan sake. Makanan yang biasa mereka sajikan adalah Yakitori, Sushi, Yakiniku, Agemono, Oden dan Hakata Ramen yang merupakan makanan kebanggaan bagi masyarakat di Fukuoka. Ada juga yang hanya buka saat matsuri (festival).  Di sana kita juga bisa menemukan yatai mura(kampung yatai).

Hadir di Indonesia

Kini konsep yatai hadir di Indonesia.  Seorang perintisnya adalah Adhitya Yodha Latuconsina, pemilik yatai di bilangan Tebet, Jakarta Selatan.  “Yatai ini yang pertama di Indonesia. Kalau biasanya masyarakat kita mengkonsumsi sushi di restoran atau hotel dengan harga ratusan ribu rupiah, di sini Rp 15.000 – 50.000 sudah kenyang habis,” tuturnya.

Meskipun harganya murah meriah, bukan berarti citarasanya kalah wah.  Sushi yang dijajakan di yatai Yodha berkualitas sama dengan sushi di restoran maupun hotel berbintang. “Berbekal keterampilan yang pernah saya peroleh sewaktu menjadi koki dan relasi penyedia bahan baku sushi, saya jamin citarasanya sama dengan sushi di hotel berbintang dan restoran,”papar mantan koki di Restoran Kino Kawa di Menara Thamrin, Jakarta itu.  Yatai menawarkan suasana yang sangat berbeda bila makan di restoran, bersifat lebih santai dan membaur sesama konsumen lainnya yang penat sehabis bekerja seharian.

Pada tahun 2007, Yodha berkeliling hingga Timur Leste.  Bukan tanpa tujuan, perjalanan itu membawa misi mengembangkan restoran di seluruh Nusantara. “Saya sering mendapat kontrak mengembangkan konsep sebuah rumah makan jepang.  Semacam konsultan profesi saya saat itu,” tuturnya.  Pria yang mengawali profesinya sebagai tukang cuci piring ini, membuka restoran di Malang, Palembang, Makassar, Semarang.  Dari situ ia mulai berfikir bahwa restoran sudah banyak,  Kenapa saya tidak membuka sendiri.Karena kepentok soal modal, Yodha membuka kedai masakan Jepang kecil-kecilan,” Imbuhnya.

Untuk memulai usahanya, ia mengalokasikan dana sebesar Rp 30 juta sebagai modal awal. Modal sebesar itu digunakan untuk pengadaan peralatan.  Meliputi : meja, gerobak, kursi, bahan makanan, biaya angkut , dan membayar tukang.  Saat ini ia memiliki 3 orang karyawan. 1 orang telah memiliki pengalaman kerja di bidang masak-memasak ala Jepang, sementara 2 karyawan yang lain belum memiliki keterampilan tersebut.  “Saya masih harus mengajarinya,” tutur Yodha.

Saat ini, Yodha menitik beratkan pada persiapan tenaga kerja.  “Untung memang harus dipikir.  Namun belum terlalu dikejar.  Yang penting bisnis ini bisa berjalan dulu.  Dan mental karyawannya harus dibentuk dulu,” tuturnya. Kalau sudah dipromosikan berarti sudah siap menerima tamu.  Soalnya ini menyangkut nama baik.  Buka restoran itu yang paling penting yaitu kesan awal. Konsepnya adalah tempat nongkrong.

Menempel Seven Eleven

Target market yang dibidik sama dengan target market Seven Eleven. Yang mayorutas adalah mahasiwa, anak-sekolah dan orang yang pulang dari kantor.  Dimana ada seven Eleven, Yodha akan merentangkan sayab bisnis kulinernya.  Tapi tidak semua seven eleven ia kuntit.  Yodha tetap memilih lokasi-lokasi yang banyak pengunjungnya.

Saat ini ada sekitar 30 menu masakan Jepang yang dijajakan oleh Yodha. Unggulan ada sekitar 6 menu unggulan. Bahan mendapatkan dari bahan Import sekitar 80%.  Namun hal itu sudah diakali oleh Yodha, sehingga tidak terlalu banyak menggunakan bahan –baku impor sehingga harganya tidak terlalu mahal. Alasan lain untuk memodifikasi bahan baku tersebut yaitu agar menjadi halal.  Karena bahan baku yang diimpor langsung dari Jepang kebanyakan diolah dengan arak, sehingga tidak pas bila dijajakan di Indonesia.  Berkat modifikasi tersebut, bahan baku impor hanya 30% saja.  Soal mutu dan citarasa, Yodha menjamin, produk yang ia jual tidak kalah dengan produk yang diimpor dari Jepang.

Dengan mondifikasi bahan baku ini, harganya bisa lebih murah.  “Banyak orang yang ingin coba-coba merasakan masakan Jepang.  Dengan adanya masakan Jepang yang murah seperti ini, orang lebih senang mencoba di tempat yang murah daripada di restoran atau di hotel yang harganya mahal,” tuturnya.  Harga menu yang paling murah di tempat itu Rp 6.000, sedangkan ayng paling mahal yaitu Rp 17.000.  “Untuk sushi yang sama, harganya bisa mencapai Rp 50.000, sedangkan di tempat saya cuma Rp 17.000,” paparnya.  Bahkan untuk restoran berbintang bisa mencapai ratusan ribu rupiah.

Saat ini belum ada pelaku usaha masakan jepang dengan konsep angkringan seperti ini. Langkah yang dilakukan Yodha untuk mengantisipasi datangnya competitor yaitu terus melakukan terobosa-terobosan baru.  Baik dari bahan baku alternatif maupun kualitas masakannya.  Setiap malam mendapatkan omzet Rp 1 juta. Ramai pada Hari Sabtu dan Minggu.  Memulai usaha dengan memasarkan melalui kawan dan saudara.

Info Resto

Kedai yatai Yodha buka setiap hari mulai pukul 16.00 sampai pukul 12.00.

ZUSHIODA japanese street sushi. Jl.Tebet Raya No.55c Jakarta Selatan, Tlp: 021 965 821 55 Twitter: @zushioda, bersebelahan dengan minimarket 711 (Seven Eleven – Sevel)

Wedang Uwuh

Minuman Mirip Sampah Penuh Khasiat

Meskipun disebut uwuh atau sampah, namun citarasa minuman ini sungguh menyegarkan. Syarat khasiat serta mengandung janji bisnis menggiurkan.

Mengangkat kembali minuman tradisional menjadi tren ternyata bisa memberikan rezeki yang menjanjikan.  Bisnis wedang uwuh ditekuni oleh Retnosyari Septiani sejak tahun 2008.  Namun penelitian telah dilakukan sejak tahun 2007.  Penelitian tersebut bertujuan untuk mencari kandungan anti oksidan dalam wedang uwuh.  Produk ini sudah diteliti secara klinis.  Wedang uwuh terbuat dari beberapa campuran rempah- rempah.  Meliputi jahe, kayu secang, kayu manis, daun pala, daun cengkeh, dan gagang cengkeh.  Kaya anti-oksidan dan minyak atsiri.  Berkhasiat untuk menghangatkan badan.  Aromanya pun berkhasiat aroma terapi.  Mengobati lelah, masuk angin dan mencegah radang tenggorokan.

Minuman ini berasal dari Imogiri, Bantul,  Yogyakarta.  Pada tahun 1630, Sultan Agung sedang bersemedi, meminta pelayan untuk membuatkan minuman.  Namun saat malam hari, banyak dedaunan yang masuk ke dalam gelas.  Namun rasanya justru menjadi Enak.  Pada tahun 2009 mulai membentuk minuman wedang uwuh instan yang siap seduh.  Saat ini ia memproduksi wedang uwuh dengan 5 variasi.  Ingin mengambangkan minuman yang memiliki unsur budaya Yogyakarta. Bisnis seperti ini harus diiringi dengan upaya edukasi masyarakat.  Agar mengetahui manfaat serta khasiat dari minuman wedhang uwuh.  Saat ini kapasitas produksinya telah mencapai : 1000 pack.

Bahan baku diperoleh dari pasar Bering Harjo Yogyakrta.  Beberapa bahan juga diambil dari petani dari Kendal.  Bahan yang dikumpulkan tidak boleh berjamur.  Modal awal : Rp 5 juta dari dana Hibah , Dinas P&K propinsi Yogyakarta.  Harga produk celup Rp 7.000 – 10.000.  Kapasitas produksi 300 pack / hari. Omzet Rp 15 juta / bulan.

Pemasaran dengan cara konsinyasi kepada supermarket, toko.  50% penjualan juga berasal dari pemesanan cash & carry.  Produk wadhang Uwuh yang ia buat juga dijual dalam bentuk curah.  “Biasanya ada yang membeli curah dan dikasih label sendiri,” tutur Retno  Saat ini pemasaran baru mencakup area Jawa Tengah.  Sehingga masih terbuka lebar untuk keagenan yang berminat ikut memasarkan produk ini. Tantangan yang dihadapi yaitu harga bahan baku yang cenderung semakin naik.  Diatasi dengan cara tidak menggantungkan kepada 1 suplayer saja.  Setiap bulan, usaha ini membutuhkan 1 ton jahe emprit setiap bulan.

Rendang Uni Farah

Bisnis Kuliner Tanpa Resto

Sukses berwirausaha tidak selalu bisa diukur dari ukuran outlet atau gerai yang didirikan.  Reno Andam salah satunya.  Meski tak memiliki Outlet, ia berhasil menggaet ratusan pelanggan.  Setiap hari puluhan kilo rendang dipesan.

 

      Menurut Reno, usaha ini dimulai oleh sebuah ketidak sengajaan.  Pada bulan Ramadhan, pada tahun 2004, ia membuat rendang.  Hasil masakan tersebut dikirim kepada beberapa teman, dan saudara.  Ia tak menyangka, kebiasaan mengirim makanan tersebut merupakan awal-mula bisnis penuh rejekinya.

Usai mengirim parsel rendang kepada sanak saudara, pesanan terus berdatangan.  Permintaan memuncak mejelang hari raya Idul Fitri.  Bahkan Tahun Baru dan Natal.  Penetrasi pasar terus dilakukan.  Hasilnya, pasanan tidak lagi bersifat musiman.  Hanya pada hari raya saja.  Namun, terus membludak setiap saat.  Selain rasanya yang istimewa, Andam juga menawarkan rendang dalam kemasan parcel yang dikemas dalam toples cantik, piring, mangkok, atau pun paper bag yang menawan.

Nilai lebih kemasan

Kemasan ini terus mengalami pengembangan hingga akhirnya tercipta Rendang dalam kantong kedap angin . Proses penyimpanan vacuum packed inilah yang membuat Rendang Uni Farah mampu bertahan hingga 3 bulan. Kemasan kedap udara tersebut juga bisa disimpan dalam keadaan beku.

Buah tangan Reno Andam tersebut akhirnya mendapat tanggapan positif dari relasinya.  Beberapa diantaranya melakukan pemesanan ulang. Bahkan pesanan tidak berhenti.  Parcel rendang juga banyak dipesan pada saat tahun baru dan natal.  Meski sudah mendapat respon positif dari konsumen dan telah memiliki pelanggan, saat itu Reno belum bermaksud mebisniskan rendangnya.

Pada suatu saat, ada seorang penerima kiriman parcel memesan langsung kepada Reno.  “Aku mau dibuatin rendang untuk dikirim kepada sudaraku di Belanda.  Jadi rendangnya harus dikemas sedemikian rupa agar bisa dimasukkan kedalam koper,” tutur Reno menirukan wanita pemesan rendang itu. Reno pun memenuhi pesanan tersebut.  Rendang dikemas rapat dengan plastik secara berlapis-lapis.  Munculah ide menciptakan rendang yang dikemas dalam plastik kedap udara.  Sehingga tidak perlu dibungkus secara belapis-lapis.  Akhirnya Reno menemukan sebuah alat pengemas kedap udara. Mesin tersebut menjadi sebuah modal pertama.  Saat itu dibeli seharga Rp 20 juta.  Sementara untuk memproduksi rendang Reno saat itu membutuhkan modal lancar sebesar Rp 5 juta.

Setiap bulan Reno mampu memproduksi rendang sebanyak 10 kg / hari.  Saat ini proses produksi dilakukan 3 kali dalam seminggu dengan kapasitar sekali produksi sebanyak 30 kg.  Saat ini pesanan sudah tidak musiman.  Setiap saat reno menerima pasanan rendang. Rendang banyak untuk dibawa bepergian.  Tak hanya itu, pelanggan Reno mengirimkan rendangnya sebagai kado ulang tahun.

Jenis rendang yang banyak dipesan adalah rendang kemasan kecil berisi 2 potong.  “Rendang seperti ini memang cocok untuk traveling.  Juga dibawa untuk pergi haji,”  imbuhnya. Berdasarkan kemasannya, produk yang dihasilkan dibedakan menjadi 3 macam item.  Yaitu rendang per 2 potong, ¼ kg dan ½ kg.

Sedangkan menurut jenisnya, dibedakan menjadi 5 jenis.  Meliputi : rendang daging, rendang daging cabik-cabik, rendang paru, rendang kentang dan udang.  Rendang tersebut dijual dengan kisaran harga Rp 20.000 / ribu – Rp 200.000 untuk rendang daging.  Menurut pengakuannya, semua jenis rendang yang dihasilkan diminati oleh pelanggan.  “Merata, semua sama-sama banyak dipesan,” akunya, bangga.

Permasaran tepat

Sepintas lalu, rumah Reno sama sekali tak terlihat seperti rumah produksi.  Terlebih-lebih rumah yang memproduksi rendang.  Pada umumnya rendang dijajakan dalam sebuah restoran.  Meski tempat usahanya tak terlihat dan tersembunyi di dalam sebuah komplek di kawasan Cileduk, bukan berarti bisnis rendang yang ditekuni sepi dari pesanan.  Keberadaan rendang Uni Farah cukup banyak dikenal.  Hal ini merupakan salah satu bukti keberhasilan cara pemasaran yang dilakukan.  Selain melalui cara mulut kemulut, Reno menjajakan Rendangnya juga melalui internet.

Saat ini, Reno memang telah mencapai omzet puluhan juta rupiah.  Sukses secara materi tersebut bukan menjadi satu-satunya tujuan dalam hidupnya.  Yang paling penting yaitu dapat berbagi dengan orang lain.  Ketika bisnis yang ia tekuni semakin sukses, itu berarti Reno memiliki kesempatan lebih banyak dalam berbagi dengan ibu-ibu pengaduk rendang yang mayoritas adalah tetangga di sekitar rumahnya.  Rejeki juga berlimpah bagi para tukang ojek yang mengantar rendang serta tukan becak yang mengantar kayu bakar. Bisnis yang ia tekuni pun menjadi kian berkah.

Hambatan yang sering ditemuai: proses produksi haus diawasi secara ketat.  Soalnya, hasilnya tidak boleh terlalu keras ataupun terlalu empuk.  Hal ini berkatitan dengan besar-kecilnya nyala api di tungku.  Kendala lain yaitu pengemasan harus benar-benar kedap udara.  Sulitnya menentukan selera pelanggan.  “Setiap orang kan punya lidah yang berbeda-beda.  Jadi sangat sulit memuaskan satu-persatu selera mereka.

Agar tetap dapat memuaskan pelanggan yang terus membanjir, reno mengatur jadwal dan tata-cara pemesanan.  Pemesanan dilakukan 3 hari sebelumnya. Khusus pemesanan Ramadhan/Hari Raya/Idul Fitri, pemesanan hanya diterima paling lambat 2 minggu sebelum lebaran. Harga dapat berubah sewaktu-waktu. Harga yang tercantum tidak termasuk biaya antar/pengiriman.  Untuk wilayah Jakarta, tangerang, bekasi, depok dikenakan biaya pengiriman antara 20 ribu sampai 30 ribu per alamat. Untuk pesanan luar kota diatas, kami menggunakan jasa Titipan kilat.

Kendalikan Kapasitas Produksi

Reno memang tidak terlalu menggebu menggenjot kapasitas produksi.  Ia pun tidak bermaksud mewaralabakan bisnis kreatifnya ini.  “Kualitas yang paling diutamakan.  Keunikan harus tetap dipertahankan,” tutur Reno.  Selama proses produksi ia  menggunakan tungku tradisional berbahan bakar kayu. Reno mendapat kayu dari pemasok di sekitar rumahnya.  Proses produksi secara tradisional tersebut membuat aroma dan rasa rendang menjadi menggugah selera. Proses pengadukan juga harus dilakukan secara perlahan, proses pengapian yang sangat hati-hati, tak heran bila rendang ini siap disajikan sekitar 7 jam kemudian.

Kunci Sukses

-          Kombinasi cara pemasaran dari mulut-kemulut dengan berbagai teknologi informasi

-          Mempertahankan kualitas dan keunikan

-          Kepercayaan, dicapai dengan ketepatan pengiriman.

Cara order modern lebih menguntungkan.  Karena nomor telepon dan email konsumen dapat digunakan sebagai data base. Sewaktu-waktu dapat digunakan untuk memberikan dan penawaran lebih intensif.


Resto Ulliko

Istana Olahan Durian

Tampil beda dengan sajian khas menjadi jurus penarik pelanggan yang diterapkan oleh Resto Durian Ulliko.  Di tempat ini, durian tak lagi disajikan dalam bentuk segar.  Melainkan sudah berubah wujud menjadi aneka penganan.

Harum aroma durian membuat banyak orang yang melintas di salah satu ruas Jalan Boulevard Raya,  Kelapa Gading, Jakarta Utara, ini menolehkan kepala ke arah restoran milik Jap Johanes. Tak jarang pengguna jalan  terbius untuk memuaskan rasa penasaranya lalu mampir ke restoran bercat jingga itu. Namun saat pintu dibuka, Anda tidak akan menemukan buah durian sebutir pun.  Jangan kecewa, pramusaji segera menyodorkan daftar menu berwarna jingga yang berisi  aneka olahan durian, lengkap dengan daftar harganya.  Bermacam makanan bercitarasa durian itu diolah secara alami.  Tanpa penambahan esen dan pemanis buatan.  “Meski sudah diolah, tapi rasanya tetap orisinil kok,” papar Johanes.

Usaha itu dirintis sejak tahun 1999.  Ketika badai krisis ekonomi bertiup kencang, Johanes justru bertekad hidup berdikari dengan membuka usaha sendiri. “Saat itu perusahaan tempat saya bekerja kembang-kempis.  Saya lalu mengundurkan diri dan buka kedai makanan,” ucapnya.  Awalnya, Johanes belajar meracik roti sang Tantea.  Setelah mahir membuar roti, ia membuka rumah makan durian di Food Court yang berlokasi di BII.  Usaha barunya itu berdiri diatas “foundasi modal” sebesar Rp 7 juta. Setiap bulan ia merelakan uangnya sebesar Rp 350.000 untuk biaya sewa tempat. “Sekitar 6 bulan saya dagang di sana.  Teman lalu ajak join buka restoran sendiri di Kelapa Gading,” papar pria kelahiran Jakarta itu.

Selalu membuat penasaran

Apapun akan dilakukan oleh penggemar durian agar bisa menikmati daging buah berduri ini.  “Durian itu buah paling unik karakternya. Tiap daerah beda rasanya.  Selalu bikin penasaran dan terus mencoba,”tutur pria kelahiran 23 September 1968 itu.  Johanes menanggapi fenomena itu sebagai sebuah peluang berbisnis, dengan berusaha memuaskan rasa penasaran para pelanggan. Hampir setiap tahun, Johanes menciptakan menu baru.  Menu itu menawarkan pengalaman citarasa anyar  bagi penggemar durian.  Dengan demikian pelanggan bisa selalu penasaran dan ingin terus menyicipi.

“Coba rasakan dadar gulung dan bolu kukus ini Mas.  Ini menu baru kami,”papar bapak berputera sutu itu  Kedua jajanan itu dibandrol dengan harga berbeda.  1 buah dadar gulung sebesar ibu jari dijual seharga Rp 6000.  Sedangkan bolu kukus seukuran telur itik dijual seharga Rp 8000.  Soal rasa, memang tidak kalah dengan buah durian segar.  Bahkan aromanya sangat harum dengan citarasa manis.  Ada sekitar 12 item olahan durian yang dijajakan di tempat itu.  Diantaranya serabi durian, ketan durian, sus durian original, sus durian toping cokelat, sus durian toping keju, dadar gulung, talam durian, nastar durian , es mambo durian, jus durian dan lempok durian.

Pusat jajan durian itu beroperasi mulai pukul 08.00, hingga  pukul 21.00.  Pada musim liburan kedai Ulliko ramai dikunjungi pelanggan.  Terutama libur lebaran, natal, tahun baru dan imlek. Anda bisa menikmati sajian di kedai itu atau dibawa pulang.  Kalau Anda malas keluar rumah, Johanes juga melayani pemesanan lewat telepon.  Untuk melayani pelanggan, Johanes mempekerjakan karyawan sebanyak 67 orang.

Sampai saat ini Johanes belum berminat menjual merk dagangnya melalui sitem franchise.  Alasan kepercayaan yang melatarbelakanginya.  Ia belum berani mempertaruhkan nama baik yang sudah dibangun selama 10 tahun. “Kalaupun pakai sitem itu, saya harus benar-benar tahu kualitas investornya.  Ia harus bisa bikin produk dengan kualitas sama seperti yang saya bikin, tandas pengusaha yang berhasil meraup omzet Rp 70 juta / bulan itu. Johanes menjaring pelanggan  dengan cara pemasaran dari mulut ke mulut.

Olahan lebih menguntungkan

“Menurut saya, dagang olahan durian lebih enak daripada dagang durian segar,” ujarnya. Pernyataan Johanes ini cukup beralasan.  Kalau dihitung secara matematis bisnis olahan durian bisa memberi untung lebih besar dibanding bisnis durian segar.  Sebagai ilustrasi, 1 kg daging durian seharga Rp 60.000 bisa digunakan untuk membuat 10 gelas jus.  Minuman siap saji itu dijual seharga Rp 22.500 / gelas.  Jadi dengan modal 1 kg durian, Johanes bisa mengantongi omzet sebesar Rp 225.000.  Sebaliknya, bila durian dijual segar, pria kreatif ini hanya bisa mengantongi omzet sebesar Rp 78.000.  Dengan asumsi, 1 kg daging buah dihasilkan oleh durian sebanyak 3 butir.  Sedangkan harga 1 butir durian kategori super lokal dibandrol Rp 26.000.  Jadi selisih omzet yang bisa dipanen sebesar Rp 147.000.

Setiap hari Yohanes butuh daging durian sebanyak 4 kg.  Jadi dalam kurun waktu sebulan ia butuh pasokan daging durian sebanyak 120 kg.  Jumlah tersebut bertambah bila ada pesanan.  Jadi modal untuk membeli durian saja sebesar Rp 7.200.000.

Kebutuhan bahan baku sebanyak itu diperoleh dari berbagai daerah.  Diantaranya berasal dari Semarang (Gunung pati), Rancamaya Bogor, Palembang dan Medan. Ia mengaku, bisnis yang digeluti tidak terpengaruh musim.  Pasalnya, tiap sentra durian punya musim panen berlainan.  Sehingga pasokan bahan baku bisa tetap lancar.  “September dari  Medan, Februari Semarang mulai panen, Juli kiriman dapat dari Pontianak, Desember nanti Medan sudah mulai panen lagi,” paparnya.  Johanes memperoleh informasi musim dan lokasi sentra durian dari kawan dan saudaranya.  “Kalau ada teman atau saudara yang kasih tahu di tempatnya sedang musim durian, saya langsung berangkat.  Di sana saya ajari mereka memilih durian yang bagus atau sama dengan standar yang saya mau,”imbuhnya

Kendala musim menjadi kian tak berarti berkat adanya mesin freezer.  Daging durian yang disimpan dalam ruang bersuhu – 18°C  sampai – 22°C bisa bertahan sampai 2 tahun.  Kualitas dan citarasanya tidak akan berubah.  Daging durian tidak boleh lebih dari 1 jam dalam suhu ruangan.  Sebab akan berair dan bercitarasa asam.

Untuk menghasilkan panganan dengan rasa durian orisinil, bahan harus dipilih secara tepat.  Syarat utama bahan baku, durian harus benar-benar beraroma harum.  Durian berkadar alkohol tinggi justru dihindari.  Sebab, durian seperti itu bila digunakan membuat olahan menjadi mudah basi.  Atau bercitarasa asam.  Durian yang banyak mengandung alkohol seperti itu masa masaknya sudah lewat seminggu lalu “ Durian montong tidak bagus digunakan sebagai bahan membuat olahan durian.  “Montong kalau dicampur dalam adonan, jadi rusak.  Jadi encer,”  tutur Johanes sambil menunjukkan adonan kuah serabi.

Menurut Yohanes, durian asal Pontianak dan Padang bagus digunakan sebagai bahan olahan.  Sedangkan durian asal Lampung sulit ditebak kualitasnya.  “Campuran sih, jadi susah.  Kadang-kadang bagus kadang-kadang juga jelek,” keluh Johanes. Agar bisa mendapatkan durian sesuai dengan yang diinginkan, Yohanes memberikan kursus singkat terlebih dulu kepada petani dan pemburu durian.  Durian yang dipilih aromanya harus benar-benar harum

Cara pengemasan pun harus dilakukan secara benar.  Sebab kalau dilakukan asal-asalan, cita rasa durian bisa rusak.  Daging durian dilepaskan dari biji dengan pisau bersih.  Lalu dimasukkan dalam kantong plastik dan dimasukkan kedalam freezer.  Dengan cara ini bisa lebih praktis.  Hemat biaya pengiriman, tidak menghasilkan kulit  yang bisa mengundang banyak lalat di sekitar restoran.

Kunci Sukses

1.      Kesan Pertama

Kunci sukses bisnis makanan terletak pada sajian yang dijajakan pertama kali.  “Kalau pertamakali rasanya enak, orang pasti akan balik lagi.  Yang jelas, mereka akan menyebarluaskan mutu produk yang kita buat,” kata Johanes.

2.      Terus berinovasi

Agar pelanggan tak bosan, inovasi harus terus dilakukan. Aneka menu baru harus diciptakan. “Meski citarasanya cuma satu (durian), produknya harus bermacam-macam.  Jadi orang bisa terus penasaran,”tuturnya.

3.      Bahan baku bermutu

Durian harus dipilih yang harum, kandungan alkohol sedikit, tepat pada usia masaknya, dan kadar gula sedikit.

4.      Ciri khas

Produk yang berbeda dengan cita rasa khas menjadi daya tarik yang sulit ditandingi oleh restoran pesaing.

 

Parit 9

Kepiting Termos, Hangat 2 x 24 jam

 Bicara soal sea food, kepiting adalah rajanya.  Sementara soal sajian kepiting, Parit 9 ahlinya. 

 Bersenjatakan  cara kemas yang unik menggunakan termos, Parit 9 berhasil menjadi raja sea food di bilangan Kota Bandung.  Padahal, Eko Rusdianto, pemilih Parit 9,  bukan dari latar belakang keluarga pedagang dan minim keterampilan memasak.  “Bapak saya bekerja sebagai seorang manteri kesehatan.  Sementara Ibu sebagai seorang Bidan,” papar pria ulet tersebut.  Eko merintis Parit 9 sejak tahun 1997.  Saat itu krisis moneter sedang melanda. “Saat itu usaha yang paling mungkin saya lakukan ya usaha kuliner,”imbuhnya.

Nama parit 9 dipilih untuk mengenang nama tambak udang milik orang tuannya yang berada di Lampung.  Kalau bicara tambak Parit 9, yang dikenal pasti kepiting.  Pasalnya produk utama tambak tersebut adalah kepiting.  Saat telah digunakan sebagai nama restoran pun, masakan utamanya adalah kepiting.

 Menjual sepeda motor

Saat merintis usaha kuliner ini, ia mengaku memiliki suka-duka yang komplit.  Modal terbatas, ilmu juga pas-pasan.  Faktor nekad saat itu yang memaksa Eko menggeluti bidang ini.  Karena rasa syukur, sampai saat ini terus bertahan.  Niat untuk maju yang mengalahkan semuanya.  Keinginan untuk merubah nasib.  Hingga akhirnya dikelola sampai profesional.

Saat itu ia sedang lulus dari perkuliahan.  “Mau cari kerja susah.  Jadi mau tidak mau saya harus bekerja sendiri.  Yang modalnya tidak terlalu besar dan praktis ya bisnis kuliner,” papar Eko.  Modal ia peroleh dari hasil penjualan sepeda motor Honda GL Max seharga Rp 7.250.000.  Uang sebanyak itu dipergunakan untuk membeli kompor, kulkas bekas, tenda dan meja.  Tenaga kerja yang ia karyakan pun masih berasal dari keluarga.  “Saat itu adik saya 2 dan 4 orang pekerja yang lain,” ujarnya.

Masa pahit dialami pada kurun waktu 1997 – 2000.  Saat itu masakan kepiting masih belum populer.  Sehingga masih banyak barang yang dibuang akibat minimnya konsumen saat itu.  “Saya belanja 1 kuwintal, ternyata hanya laku 20 kg,” cetusnya.  Periode itu sempat membuat Eko ingin berhenti.

Saat itu warung tendanya berlokasi di kawasan Sulanjana, Bandung.  Maka, warung tenda dengan hidangan aneka sea food tersebut diberi nama Sulanjana Sea food.  Di temopat itu ia berdagang selama 1,5 tahun.    Kemudian ia berpindah ke Jl. Cendana, Bandung.  Di tempat itu ia juga masih menyewa tempat selama 7 tahun.  Usaha kuliner yang ditekuni terus berkembang.  Hingga pada akhirnya ia berhasil memiliki rumah makan sendiri di Jl Anggrek, Bandung. Jenis makanan sea food dipilih lantaran ia memiliki hobi menyantap masakan sea food.  “Intinya saya ingin terus makan sea food murah  karena bikin sendiri,”  tuturnya sambil tertawa.

Ide bisnis kepiting termos muncul saat ia berpindah ke Jl. Cendana.  Kepiting termos merupakan menu andalan parit 9.  Sajiannya sebenarnya sama dengan sea food pada umumnya.  Hanya saja, kepiting dikemas dalam sebuah termos.  Dengan demikian kehangatan kepiting bisa dipertahankan lebih lama bila dibungkus secara konvesional dengan plastik.

Resep kepiting singapura sebenarnya adalah masakan Indonesia dengan rempah-rempah asli Indonesia.  Saat ini Parit 9 menyajikan sekitar 35 menu sea food.  Awalnya suplai bahan baku berasal dari tambaknya di Lampung.  Namun saat ini, Eko telah memiliki petani mitra yang sanggup memasok bahan baku secara rutin.  Pengaruh cuaca yang tidak menentu membuat Eko tidak mau menggantungkan diri kepada sedikit pemasok bahan baku.  Sekarang ia juga bekerjasama dengan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur.  Saat ini ada sekitar 40 petani ikan, sedangkan petani penyuplai kepiting berjumlah ratusan.

1000 orang / hari

Pada hari-hari biasa Rumah Makan Parit 9 membutuhkan kepiting sebanyak 100- 200 kg kepiting / minggu.  Pemasaran yang dilakukan yaitu menggunakan mulut-kemulut.  Kualitas , harga dan tempat sangat mempengaruhi kesuksesan.  Soal persaingan, Eko tidak begitu mempermasalhkan.  “Sebenarnya justru bahagia melihat semakin marak bisnis sea food di Bandung.  Berarti kesadaran masyarakat kita untuk mengonsumsi makanan sehat semakin bagus,” Eko.

Tips untuk bersaing yaitu kejujuran.  Menyajikan masakan dengan kualitas yang terjamin kesegarannya.  Sebelum dimasak, konsumen bisa memilih sendiri kepiting, ikan dan udang yang ada dalam akuarium dan bak yang berada di dalam restoran.   Soal harga, Parit 9 selalu mendahulukan kepentingan konsumen.  “Misi kita yaitu membuat banyak orang senang makan sea food dengan harga yang terjangkau,” paparnya.  Harga dicantumkan dalam setiap akuarium.  Sehingga pelanggan bisa memprediksikan biaya yang dihabiskan.  Harga yang dicantumkan tersebut sudah berikut harga memasak.

Pengembangan menu berikutnya: menjaga menu-menu yang sudah laku.  Menu baru setiap 1 bulan sekali ditawarkan.  Untuk kepiting termos tidak hanya sebatas kepiting singapura.  Saat Ini pelanggan juga bisa menikmati kepiting kukus.  Kepiting ini dibungkus dengan daun pisang.  Di dalamnya  ditambahkan bumbu rempah-rempah.  Kemudian dibakar sehingga menimbulkan aroma yang menggiurkan.  Saat ini ada sekitar 25 macam olahan kepiting.  Setiap hari jumlah tamu yang berkunjung dapat mencapai 500 – 700 orang.  Sementara pada hari libur dan week end dapat mencapai mendekati angka 1.000 orang.  Saat ini ia belum bertujuan membuka cabang di luar Kota Bandung.  “Untuk sementara waktu Parit 9 biar ada di kota Bandung saja dulu,” paparnya.

Tentang Kepiting Termos

Produk ini merupakan menu andalan Parit 9.  Dijuluki kepiting termos lantaran dikemas dalam termos.  Dalam setiap berisi 3 kg kepiting.  Setiap 3 kg berisi 9 ekor .  Harganya Rp 225.000.  Namun bila dimakan di tempat, setiap 1 porsi dihargai Rp 60.000.  Kepiting soka Rp 8500 per ons,  kepiting telur Rp 7000 per ons,  kepiting banci Rp 6500 per ons, Kepiting isi Rp 5000 per ons. Khusus saus Singapura dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 5000. Kepiting banci banyak diminati lantaran memiliki tekstur daging yang lembut.  Serta banyak mengandung lemak.  Sehingga memiliki aroma yang harum dan bercita rasa gurih.

Saat itu antara Bandung dan Jakarta belum dihubungkan oleh jalan tol.  Namun saat itu tamu yang berdatangan ke warung tenda Parit 9 sudah banyak.  “Selain panasnya tidak bisa bertahan lama, kalau dibungkus pakai plastik itu kurang higienis.  Makanya saya terus pakai termos,”  papar Eko.  Termos dipadukan dengan daun pisang.  Sehingga aromanya bisa tetap dipertahankan. Kepiting termos mampu bertahan 2 x 24 jam.    Untuk mempertahankan aroma, bagian dalam termos dilapisi dengan daun pisang terlebih dulu sebelum kepiting dimasukkan.

 

Nuget Sayur

Janji Rupiah Dari Nuget Rumahan

 Bisnis tak selamanya harus dimulai dengan modal besar.  Usaha nugget layak dilirik.  Modalnya ringan dengan keuntungan  menjanjikan.

Ide berbisnis bisa muncul dari mana saja. Anindita Damayanti, pengusaha nugget sayur di Bogor menangkap peluang usaha ini  justru dari sikap anaknya yang masih kecil enggan makan sayur.  “Anak saya nggak  suka makan sayur.  Lalu saya akali dengan olahan nugget sayur. Rupanya  dia tidak menyadari kalau lauk yang saya berikan itu sayur,” kata mantan model  berputera 2 itu.   Sikap enggan makan sayur tersebut bukan hanya dialami oleh anaknya, namun mayoritas anak kecil memiliki sikap serupa terhadap sayuran.  Fenomena tersebut menjadi ilham bagi Ibu berusia 28 tahun ini, untuk memulai bisnis nugget sayur.   “Sekarang kesadaran masyarakat terhadap kesehatan semakin baik.  Produk-produk makanan sehat menjadi berpeluang baik pula,”imbuhnya

Usaha rumahan itu diawali hanya dengan modal tak lebih dari Rp 50.000.  Awalnya, Anindita hanya menjual 2 – 3 bungkus nugget sayur.  Kawan, dan saundara menjadi target pasarnya.  Cita rasa lezat nugget sayur itu ternyata tidak berhenti sampai di lidah saudara dan kawan.  Mereka yang sudah mencicipi, lalu menyebar kabar kelezatan nugget sayur kepada orang lain.  Pasarnya pun menjadi semakin luas.  Nuget sayur karya Anindita laris manis.

Omzet jutaan rupiah

“Saat ini  setiap minggu saya rutin mendapat order nugget sebanyak 200 pak. Di luar pesanan rutin itu kadang masih ada order lain via internet,” tandas Anindita.  Dengan kapasitas produksi tersebut, ia mampu meraup untung bersih Rp 1 – 1,5 juta per bulan.  Ada 4 macam nugget yang dijual.  Nugget bayam merah, bayam hijau, wortel dan nugget brokoli.

Kelompok nugget sayur tersebut dibedakan lagi menjadi dua kategori.  Yaitu nugget sayur biasa dan nugget sayur organik.  Nuget sayur biasa dijual seharga Rp 11.000 per pack.  Isinya 10 potong.  Sedangkan nugget sayur organik dijual seharga Rp 12.000. Dengan isi yang sama. Untuk melengkapi produknya, Anindita juga membuat nugget keju.  Pesanan rutin berasal dari berbagai pasar swalayan dan gerai organik.   “Saya masih terkendala soal sertifikasi.  Padahal, saya pernah dapat order dari supermarket  sebanyak 100 bungkus setiap minggu.  Karena sertifikatnya belum kelar, batal deh pesanan itu,” keluhnya.

Saat ini, relasi dan kenalan masih menjadi senjata utama pemasaran yang ia lakukan.  Beberapa gerai yang berhasil ditembus diantaranya adalah Kedai Organik, Bogor Permai, BSD Healthy Kios, Pasar Modern dan Station Organik di Bogor.  Pemasaran lewat internet juga menjadi senjata lain untuk memasarkan nugget.  Untuk mendukung pasar maya itu, Anindita membangun sebuah website.

Melalui berbagai milis dan situs bisnis yang lain, Anindita mengabarkan kepada calon pelanggan ihwal website nugget yang sudah ia bangun.  “Produk saya distribusikan lewat beberapa agen reseller. pemesanan melalui email ataupun sms akan langsung dihubungkan ke reseller terdekat dari area pemesan.  Pemesan itu bisa dilakukan melalui  kontak melalui Yahoo Messenger,”tutur lulusan Akademi Pariwisata Sahid itu.

 Bahan pembuatan

Nuget sayur diramu dengan campuran sayur dan daging ayam.  Sehingga kandungan gizinya lebih komplit dibanding nugget konvensional yang hanya diracik dengan daging saja. Sayur di dalam nugget ini menjadi pasokkan kebutuhan serat.  Vitamin dan mineral yang dikandung pun lebih lengkap.

Nuget satu pack butuh sayur sebanyak 500 gr dan daging ayam 500 gr.  Bahan-bahan itu dibeli dari supermarket.  “Untuk tepungnya saya beli dari toko kue langganan. Sedangkan sayur saya beli dari supermarket,” aku Ibu berputera 2 ini.  Tepung yang digunakan adalah tepung maizena.  Tepung jagung lebih bergizi dibanding  terigu.  Jadi, lebih cocok untuk anak-anak.

Anindita memberlakuka standar mutu untuk daging ayam.  Daging yang dipilih harus berkandungan lemak rendah.  “Ayam kampung lebih baik.  Tapi kalau mau pakai ayam broiler juga tidak apa-apa.  Asal dipilih bagian dada,”cetusnya.  Lemak berlebih membuat nugget menjadi terlalu lembek dan tidak tahan lama.

Bahan baku lain yang dibutuhkan adalah sayur. Menurutnya, sayur di supermarket memiliki standar mutu lebih stabil dibanding sayur yang dijajakan di pasar tradisional.  Selain itu, pasokannya lebih kontinyu. Terutama untuk pasokan sayur brokoli. Wortel dari supermarket rasanya lebih manis dan warna yang lebih menyolok daripada wortel lokal.

Sayur giling, daging giling, maizena serta bumbu lalu diaduk sampai rata.  Dimasukkan dan dicetak dalam loyang.  Kemudian dikukus selama 20 menit

Setelah matang, dipotong-potong dengan cetakan kue kering, dilumuri putih telur dan ditaburi tepung panir.  Bila putih telur telah kering, nugget siap dikemas dalam plastik lalu disimpan dalam almari es.

Nuget siap dijajakan, semoga laris.

 

Holycow Steak Hotel

Tumbuhkan Rasa Fanatik Via Twitter

Meski baru berusia 6 bulan, Hollycow Steak Hotel telah menggaet ratusan pelanggan fanatik. Sukses pemasaran ini tak lepas dari kejelian memanfaatkan Teknologi Informasi. Twitter.

Ces… lembaran-lembaran daging sapi mulai mendesis di atas pemanas.  Asap mengepul bertambah pekat memenuhi ruangan.  Begitu pula pengunjung kian berjubel memadati setiap sudut kedai yang sedikit tersisa.  Cita rasa steak buatan Holycow terbukti telah membuat kecanduan para pelanggan.  Meski hujan bertambah deras, kedai telah penuh sesak, namun pelanggan terus berdatangan.  “Steak itu makanan yang simpel. Tinggal diiris dan dicelup ke saos,”papar salah satu pelanggan terhadap rekannya.

“Mereka (pelanggan) boleh dikatakan sudah fanatik.  Bisa dikatakan sudah membentuk sebuah komunitas. Disini mereka bisa saling kopi darat,” tutur Wynda, salah satu owner Hollycow.  Rasa fanatik pelanggan tersebut tak luput dari peran tenik pemasaran yang dilakukan oleh Wynda.  Ia memperkenalkan kedai steak-nya melalui Twitter.  Menurutnya, Twitter termasuk media online yang saat ini sedang banyak di manfaatkan orang.  Melalui Twitter, konsumen bisa saling berinteraksi.  Juga berkomunikasi dengan pihak Holycow.

Promosi dari mulut-kemulut digabung melalui twitter. “Umumnya, konsumen disini sebelum menikmati sajian, difoto dulu, lalu di-tweet.  Bayangkan kalau 1 orang punya follower ratusan bahkan ribuan. Terus setiap follower akan melakukan retweet ke follower masing-masing.  Efeknya sangat luar biasa.  Tutur Wynda.

Saat melakukan grand opening, Wynda mengundang rekan-rekan dan kerabat dekat.  Umumnya mereka memiliki twitter.  Usai menikmati menu di kedai Hollycow, tamu undangan tersebut lantas mengirim kabar melalui rekan mereka masing-masing melalui twitter.

Promo lain juga dilakukan.  Yaitu memberikan bonus kepada pengunjung yang melakukan tweet kepada followernya saat makan di holycow.  “Merka bisa claim, lalu ditukar dengan tiramisu seharga Rp 10.000.  Bagi penunjung yang ulang tahun.  Bebas memilih steak farina yang disukai.  Holycow juga rutin mengadakan kuis berhadiah stiap tanggal 15.  Pemenangnya akan mendapatkan bebas makan dan bebas antrean.

Sweet Purple

Sajikan Menu Sehat Berbahan Ubi

Perubahan.  Kata sederhana itulah yang membawa Adi Kharisma, pengusaha kuliner ubi  pada puncak kesuksesan.  Sebagai pengusaha kuliner aneka olahan berbahan baku ubi.


 

Baginya,  sukses dan kemampanan ternyata tidak mampu memuaskannya.  Setelah malang –melintang dan sukses dibidang ritel dengAdd an Imagean mozet rutin Rp 1,5 miliar per bulan, pria gigih ini ingin menjajaki bisnis baru.  Ia kepincut terjun ke bisnis VCO. Yang pada tahun 2004 sedang booming.  Sementara itu, pemasukkan lain ia peroleh dari 10 convenient mart, empat gerai warung soto, serta satu gerai waralaba Subway Sandwich di Australia. Namun sayang, upaya perubahan itu justru menjadi batu sandungan.  Adi gagal sebagai pengusaha VCO.  . Padahal, ia sudah berinvestasi sebesar Rp 100 juta.

Latar belakang lain yang mendorong perubahan pada diri Adi yakni kesehatan.  Tujuh kerabat Adi termasuk ibu, paman, mertua serta kakaknya yang terkena penyakit kanker. Saudara tuanya meninggal dunia lantaran terjangkit penyakit kanker. Pada tahun 1995. Pelaku guru fitness Paman dan mertua terserang penyakit kanker paru-paru. Hingga Ibu terkena penyakit kanker payudara.

Tester pribadi

Bencana itu nampaknya menggerakkan inisiatif Adi untuk meneliti penyebabnya. Setelah mencari jawaban melalui berbagai literature, akhirnya ditemukanlah sebuah jawaban.  “Penyebabnya adalah kesalahan pola makan”, tegas pria berusia 50 tahun ini. Melihat latar belakang tersebut, Lulusan pendidikan bisnis Sanfrancisco State ini  tidak menghendaki terkena kanker.  Ia lantas memulai dari diri sendiri untuk memperbaiki pola makan. melakukan eksperimen sendiri selama enam bulan. “Selama itu, saya makan semua hasil eksperimen saya,”

Ternyata ketemulan antosianin.  Zat makanan yang berwarna ungu ini terdapat dalam makanan diantaranya biet, terong, ubi ungu, dan anggur.  Zat ini berfungsi untuk memperbaiki darang, menyerap racun dan menangkal radikal bebas.

Pada tahun 2006, Adi mulai memfokuskan diri menggeluti usaha pengolahan makanan dari ubi jalar ungu. Ia memulai bisnisnya di Denpasar Bali.  Ia menggunakan toko warisan keluarga sebagai tempat usahanya. Produk perdananya adalah nasi ubi ungu.  Tak lama kemudian disusul es krim ubi ungu dan brownies ubi ungu.  Menurutnya, dari sekian banyak bahan makanan yang menggandung antosianin, ketersediaan ubi yang paling berlimpah dibanding suplai bahan makanan lain.  Adi mengaku, modal awal sulit diperhitungkan.  Sebab dimulai dari sedikit demi sedikit dalam takaran coba-coba.

Menurutnya, 80% masyarakat Indonesia masih harus dididik untuk makan pola sehat.  Sedangkan 20% yang lain sudah memiliki kesdaran konsumsi makananan sehat.  Itu artinya, peluang berbisnis makanan sehat seperti ubi ungu ini masih terbuka lebar.  Sebab masih banyak orang yang belum mengenalnya.  Produk ini produk masa depan.  Harus dimasyarakatkan.  “Selama ini orang mengetahui ubi itu hanya direbus dan dogoreng.  Belum ada yang namanya ubi di buat jus, es krim dan burger,” tuturnya

Sebenarnya ubi ini sifatnya hanya sebagai bahan tambahan saja.  Dengan cara ini, selain sehat, juga bisa menghemat biaya produksi sampai  40%. Biar enak dimakan, tidak hanya direbus dan digoreng saja tentunya.  Terobosan cara penyajian lain harus dilakukan. Salah satunya dengan menyuguhkan sebagai es krim, burger es krim, roti., jus.

Diversifikasi menu

Pesaing memang selalu ditemukan. Adi punya trik menghadapi pesaing.  Ia lebih memilih menghindari persaingan di Malang. Pada bulan Agustus Tahun 2008 , Adi hijrah ke Jakarta.  Di kota metropolitan ini ia merintis kedai ubi di Bintaro.  Dengan cara  menyewa warung kecil  bertarif Rp 1,5 juta per bulan.  Tempat itu dinamakan Sweet Purple.  Saat ini Adi telah memiliki 4 outlet.  Masing-masing berlokasi di mekarsari, bintaro, sekolah pembangunan jaya dan di sekolah global jaya.

Cara bersaing lain yang ia lakukan yaitu dengan memperbanyak deversivikasi produk.  Ia kemudian membuat produk ubi jalar dari empat warna ubi jalar yang ada, yaitu ungu, putih, kuning, dan oranye. Tidak hanya berhenti pada pengembangan warna.  Pengusaha kuliner kreatif ini juga merekayasa ubi menjadi beragam bentuk olahan pangan.  Diantaranya burger es krim yang dibandrol seharga Rp 12.000 per buah,  jus ubi ungu dijual Rp 11.000 – Rp 17.000 per gelas, brownies ubi ungu Rp 35.000 per 250 gram, dan pia ubi ungu seharga Rp 17.000 per kotak isi enam buah., nasi ubi ungu. Harganya Rp 17.000 per kotak empat tusuk sate ayam lilit. margin sekitar 30 persen. Omzet yang berhasi dikeruk sekitar Rp 50 juta sebulan

Target yang paling tepat adalah anak-anak.  Sekolahan menjadi segmen usahanya.  Bapak berputeri satu dan berputera satu ini berusaha mengubah kesadaran masyarakat tentang pola makan sehat melalui anak-anak. Selain untung puluhan juta rupiah, jerih payah itu ditebus dengan prestasi bergengsi.  Ia memperoleh penghargaan dari Dewan Pangan Italia.

Kendala utama yang ia temui adalah minimnya pasokan bahan baku. “Setiap bulan saya butuh pasokan ubi sebanyak 3 ton,” tuturnya. Untuk mengatasinya, Adi berencana bekerja sama dengan para petani di Yogyakarta. Namun, hingga sekarang ini Adi masih mengandalkan pasokan ubi jalar dari beberapa petani lokal di Bali. Di tempat itu ia memiliki kebun sendiri seluas 1,5 hektar.