Sweet Purple

Sajikan Menu Sehat Berbahan Ubi

Perubahan.  Kata sederhana itulah yang membawa Adi Kharisma, pengusaha kuliner ubi  pada puncak kesuksesan.  Sebagai pengusaha kuliner aneka olahan berbahan baku ubi.


 

Baginya,  sukses dan kemampanan ternyata tidak mampu memuaskannya.  Setelah malang –melintang dan sukses dibidang ritel dengAdd an Imagean mozet rutin Rp 1,5 miliar per bulan, pria gigih ini ingin menjajaki bisnis baru.  Ia kepincut terjun ke bisnis VCO. Yang pada tahun 2004 sedang booming.  Sementara itu, pemasukkan lain ia peroleh dari 10 convenient mart, empat gerai warung soto, serta satu gerai waralaba Subway Sandwich di Australia. Namun sayang, upaya perubahan itu justru menjadi batu sandungan.  Adi gagal sebagai pengusaha VCO.  . Padahal, ia sudah berinvestasi sebesar Rp 100 juta.

Latar belakang lain yang mendorong perubahan pada diri Adi yakni kesehatan.  Tujuh kerabat Adi termasuk ibu, paman, mertua serta kakaknya yang terkena penyakit kanker. Saudara tuanya meninggal dunia lantaran terjangkit penyakit kanker. Pada tahun 1995. Pelaku guru fitness Paman dan mertua terserang penyakit kanker paru-paru. Hingga Ibu terkena penyakit kanker payudara.

Tester pribadi

Bencana itu nampaknya menggerakkan inisiatif Adi untuk meneliti penyebabnya. Setelah mencari jawaban melalui berbagai literature, akhirnya ditemukanlah sebuah jawaban.  “Penyebabnya adalah kesalahan pola makan”, tegas pria berusia 50 tahun ini. Melihat latar belakang tersebut, Lulusan pendidikan bisnis Sanfrancisco State ini  tidak menghendaki terkena kanker.  Ia lantas memulai dari diri sendiri untuk memperbaiki pola makan. melakukan eksperimen sendiri selama enam bulan. “Selama itu, saya makan semua hasil eksperimen saya,”

Ternyata ketemulan antosianin.  Zat makanan yang berwarna ungu ini terdapat dalam makanan diantaranya biet, terong, ubi ungu, dan anggur.  Zat ini berfungsi untuk memperbaiki darang, menyerap racun dan menangkal radikal bebas.

Pada tahun 2006, Adi mulai memfokuskan diri menggeluti usaha pengolahan makanan dari ubi jalar ungu. Ia memulai bisnisnya di Denpasar Bali.  Ia menggunakan toko warisan keluarga sebagai tempat usahanya. Produk perdananya adalah nasi ubi ungu.  Tak lama kemudian disusul es krim ubi ungu dan brownies ubi ungu.  Menurutnya, dari sekian banyak bahan makanan yang menggandung antosianin, ketersediaan ubi yang paling berlimpah dibanding suplai bahan makanan lain.  Adi mengaku, modal awal sulit diperhitungkan.  Sebab dimulai dari sedikit demi sedikit dalam takaran coba-coba.

Menurutnya, 80% masyarakat Indonesia masih harus dididik untuk makan pola sehat.  Sedangkan 20% yang lain sudah memiliki kesdaran konsumsi makananan sehat.  Itu artinya, peluang berbisnis makanan sehat seperti ubi ungu ini masih terbuka lebar.  Sebab masih banyak orang yang belum mengenalnya.  Produk ini produk masa depan.  Harus dimasyarakatkan.  “Selama ini orang mengetahui ubi itu hanya direbus dan dogoreng.  Belum ada yang namanya ubi di buat jus, es krim dan burger,” tuturnya

Sebenarnya ubi ini sifatnya hanya sebagai bahan tambahan saja.  Dengan cara ini, selain sehat, juga bisa menghemat biaya produksi sampai  40%. Biar enak dimakan, tidak hanya direbus dan digoreng saja tentunya.  Terobosan cara penyajian lain harus dilakukan. Salah satunya dengan menyuguhkan sebagai es krim, burger es krim, roti., jus.

Diversifikasi menu

Pesaing memang selalu ditemukan. Adi punya trik menghadapi pesaing.  Ia lebih memilih menghindari persaingan di Malang. Pada bulan Agustus Tahun 2008 , Adi hijrah ke Jakarta.  Di kota metropolitan ini ia merintis kedai ubi di Bintaro.  Dengan cara  menyewa warung kecil  bertarif Rp 1,5 juta per bulan.  Tempat itu dinamakan Sweet Purple.  Saat ini Adi telah memiliki 4 outlet.  Masing-masing berlokasi di mekarsari, bintaro, sekolah pembangunan jaya dan di sekolah global jaya.

Cara bersaing lain yang ia lakukan yaitu dengan memperbanyak deversivikasi produk.  Ia kemudian membuat produk ubi jalar dari empat warna ubi jalar yang ada, yaitu ungu, putih, kuning, dan oranye. Tidak hanya berhenti pada pengembangan warna.  Pengusaha kuliner kreatif ini juga merekayasa ubi menjadi beragam bentuk olahan pangan.  Diantaranya burger es krim yang dibandrol seharga Rp 12.000 per buah,  jus ubi ungu dijual Rp 11.000 – Rp 17.000 per gelas, brownies ubi ungu Rp 35.000 per 250 gram, dan pia ubi ungu seharga Rp 17.000 per kotak isi enam buah., nasi ubi ungu. Harganya Rp 17.000 per kotak empat tusuk sate ayam lilit. margin sekitar 30 persen. Omzet yang berhasi dikeruk sekitar Rp 50 juta sebulan

Target yang paling tepat adalah anak-anak.  Sekolahan menjadi segmen usahanya.  Bapak berputeri satu dan berputera satu ini berusaha mengubah kesadaran masyarakat tentang pola makan sehat melalui anak-anak. Selain untung puluhan juta rupiah, jerih payah itu ditebus dengan prestasi bergengsi.  Ia memperoleh penghargaan dari Dewan Pangan Italia.

Kendala utama yang ia temui adalah minimnya pasokan bahan baku. “Setiap bulan saya butuh pasokan ubi sebanyak 3 ton,” tuturnya. Untuk mengatasinya, Adi berencana bekerja sama dengan para petani di Yogyakarta. Namun, hingga sekarang ini Adi masih mengandalkan pasokan ubi jalar dari beberapa petani lokal di Bali. Di tempat itu ia memiliki kebun sendiri seluas 1,5 hektar.

 

2 thoughts on “Sweet Purple

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s