Bisnis Portable

Kendaraan Sebagai Ajang Usaha

Bisnis di atas kendaraan bermotor menjadi alternatif yang layak dilirik.  Selain efektif dan efisien, cara bisnis semacam ini lebih agresif.  Mendekati langsung konsumen yang dibidik.

 

      Kendaraan ternyata tidak hanya fungsional sebagai sarana transportasi.  Bagi pengusaha kreatif, mobil atau motor dapat dialih fungsikan sebagai ajang menggelar barang dagangan.  Salah satunya dilakukan oleh Bunjamin, pengusaha helm di kawasan Buolevard Graha Raya Bintaro, Tangerang.  Tanpa kios khusus, Bunjamin setiap hari dapat memajang helm sebanyak lebih dari 100 buah.  Mobil sedan berwarna merah marun miliknya disulap sebagai tempat menjajakan barang dagangan.

Ia mengaku sudah 4 tahun menjalani usaha tersebut.  Menurutnya, cara bisnis seperti ini sangat efisien dan efektif.  “Tak perlu susah-susah mengeluarkan biaya pengadaan gerai atau kios.  Juga biaya untuk sewa tempat.  Paling-paling hanya ngasih uang keamanan alakadarnya.  Itupun tak pasti ada,” tutur pria asli Betawi tersebut.  Sementara, lokasi mangkal berjarak sekitar 2 km dari tempat tinggalnya.

Survey lokasi

Sebelum memilih tempat mangkal, biasanya saya survey dulu.  Umumnya tempat-tempat yang berdekatan dengan fasilitas umum sangat potensial.  Misalnya, di dekat sentra kuliner, dekat sentra penjualan tanaman hias.  Tempat mangkal sebaiknya juga dipilih yang banyak dilalui sepeda motor atau daerah yang kemungkinan penduduknya banyak yang memiliki sepeda motor.  Pengalaman Bunjamin, membuktikan bahwa bisnis seperti ini dapat terhindar dari persaingan.  Pasalnya ia dapat mendekati konsumen atau jemput bola.  “Saya juga menerima pesanan lewat telepon.  Begitupula kalau ada komplain.  Bisa saya samperin langsung,” kata Bunjamin.

       Keuntungan lain yang bisa diperoleh dari cara berbisnis ini yaitu sangat fleksibel mengatur waktu dan memilih lokasi berjualan.  Bunjamin secara mudah berpindah dari tempat satu menuju ke tempat lain yang dianggap ramai.  “Kalau pas sore seperti ini saya mangkal di sini.  Tapi kalau pas pagi, saya mangkal di dekat bundaran sana (berjarak 1,5 km dari tempat mangkal),” tuturnya.

Saat berangkat dari rumah, seluruh ruang dalam mobilnya diisi penuh dengan helm.  Ruang hanya tersisa pada tempat duduk Bunjamin saat mengemudikan kendaraan dagangnya.  Setelah sampat di lokasi berjualan, pria ini segera melapisi badan mobilnya dengan lembaran kardus karton.  “Kalau tidak dilapisi plastik seperti ini, cat mobil saya bisa rusak tergores-gores helm,” paparnya.  Saat masih berada di dalam mobil, semua helm dilapisi dengan kertas koran.  Tujuannya agar cat serta kacanya tidak tergores.  Setiap bulan ia mampu menjual helm sebanyak 10 – 15 buah.  Dengan harga rata-rata berkisar Rp 150.000 – 300.000 / helm.  Bunyamin sendiri melakukan kulakan helm dari kawannya.

Produk tebu sampai roti

Cara bisnis serupa juga dilakukan oleh Doddy Sularso Bangun, pendiri Rajanya tebu. Ia memulai bisnis dengan lima gerobak yang menjual minuman sari tebu. Keunikan yang dihadirkan melalui bisnisnya yaitu tebu batangan yang diperas langsung di depan pembeli. Dengan demikian meski harga jual lebih tinggi dari produk sejenis, konsumen yakin bahwa minuman yang dibelinya benar-benar sari tebu murni. Biasanya minuman tebu dijual seharga Rp. 2000 per gelas, sementara sari tebu yang dijual Doddy harganya Rp. 4000 per gelas. Jika tanpa tambahan es batu, harganya menjadi Rp. 5000.

Sesuai prediksinya, produk yang ia jual laris. Hanya perlu waktu enam bulan sejak Doddy meluncurkan lima gerai pertamanya ke pasar, ia sudah menerima permintaan dari khalayak yang tertarik menjadi mitra. Investasi awal ia tawarkan sebesar Rp. 16 juta. Kini, ia menambah “kemasan” dari gerai-nya menjadi gerobak motor dan mobil. Besaran investasi yang ditawarkan ke mitra pun bertambah. Untuk gerai motor nilai investasinya Rp. 44.550.000. Selain itu  ia juga menawarkan bentuk gerai lain yaitu gerai mobil Rp. 64,5 juta, gerai café Rp. 99,75 juta, gerai kaki lima 28,5 juta, dan gerai mall dengan investasi sebesar Rp. 58,5 juta.

Bahkan, selain minuman ia juga menawarkan komoditas baru berupa bakso tebu. Bakso yang kuahnya dicampur dengan sari tebu, itulah menu unik yang kini diujicoba ke pasar. Meski baru dirilis tahun 2010 ini, bakso tebu sudah ada di tiga outlet, yaitu di Blok M, Jakarta Selatan, Depok, dan Lampung.

Hingga kini, Doddy sudah mempunyai mitra sebanyak 300 orang dan sekitar 800 outlet. Gerainya tersebar di Jakarta sebanyak 250 outlet, Surabaya 100 outlet, dan Batam 50 outlet. Selain itu ada pula gerai di Medan, Jambi, Palembang, Bandarlampung, Bali, Bandung, Cirebon, Gresik, Semarang, Yogyakarta, Sidoarjo, Pasuruan, Probolinggo, Balikpapan, Tenggarong, dan Makasar.

Model bisnis serupa dengan barang dagangan berbeda dilakukan oleh Joy Bakery & Donuts.  Sepeda motor beroda tiga yang dilengkapi dengan boks disulap menjadi tempat berjualan roti.  Boks dapat dibka menyerupai rumah.  Di dalamnya terdapat dua rak bersusun 2 berdampingan.  Berisi aneka roti yang dijajakan.  Boks berbentuk rumah mini itu dibuat dari aluminium.  Sehingga ringan dan tahan karat.  Dengan cara seperti ini konsumen dapat lebih didekati.  Harga roti yang dijual tergolong murah.  Dimulai dari roti seharga Rp 1500.  Sementara itu, untuk membangun gerai seperti itu dibutuhkan dana sekitar Rp 25 juta.  Rp 18 – 20 juta harga motor.  Sisanya untuk membuat boks.

 Sumber : Majalah Ide Bisnis

Boks
Keuntungan Bisnis Portable
  1. Tepat membidik pasar.  Karena lokasi bisa dipilih.
  2. Efisien biaya operasional.  Tidak butuh biaya sewa tempat.
  3. Waktu lebih luwes.  Disesuaikan dengan kondisi pasar, lingkungan dan calon konsumen.
  4. Mombil dan mudah berpindah-pindah.  Ketika pasar jenuh bisa memilih lokasi lain secara mudah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s