Seharusnya Tak Terjadi

Aneka Kasus Nakal Di Bidang Agrobisnis

       

Anda tertarik menekuni bidang Agrobisnis? Simak dan cermati berbagai kasus berikut ini.  Uraian dalam ragam kasus ini merupakan sajian modus-modus kenakalan di bidang agribisnis.

 Kasus 1
Salah Lokasi Kelinci Selalu Mati

      Adalah Agus, seorang karyawan sebuah perusahaan kontraktor di Semarang.  Di sela-sela kegiatan tugas kantor, Agus mencoba merintis kemandirian finansial melalui berbagai usaha.  Pertengahan tahun 2008 pria ulet ini mencoba menekuni usaha ternak kelinci.  Ia mengenal dan belajar beternak kelinci dari sebuah perkumpulan yang kerap menyelenggarakn seminar.  Tak sedikit ia telah menginvestasikan modal dalam bidang beternak kelinci.  “Rata-rata sepasang harganya mencapai Rp 500,”paparnya.

Pria ini sangat antusias dalam memulai usaha gribisnis beternak kelinci.  Segudang motivasi dan bekal teknis beternak kelinci ia peroleh dari seminar yang diselenggarakan oleh penyelenggara seminar yang tak lain juga penjaja induk kelinci.  Setelah beberapa saat menekuni usaha tersebut, kelinci yang ia pelihara berhasil beranak.  Namun, pria ini nampaknya mengalami problem dalam membesarkan anak kelinci.  Satu persatu anak bahkan induk kelincinya mati.  Pria berputeri 1 dan berputera 1 ini tak lantas patah arang.  Ia terus menggali informasi dari nara sumber seminar yang juga sebagai penyedia kelinci.  Agus terus menginvestasikan modal untuk membeli kelinci. Akan tetapi, kelinci terus berguguran.  Untung tak kunjung ia cecap. Berbagai solusi yang diberikan oleh penyelenggara seminar nampaknya tak kunjung memecahkan permasalahan.

Jawaban justeru diperoleh dari seorang kawan yang bukan dari pihak penyelenggara seminar juga bukan penjual kelinci.  “Beli kelinci di mana Mas?”, tanya kawan Agus.  “Di daerah Temanggung, Jawa Tengah,” Jawab Agus.  “Lho, apakah cocok kondisi lingkungannya.  Temanggung kan sejuk.  Sedangkan Semarang udaranya panas. Lagi pula kelinci kan sebaiknya dipelihara di daerah sejuk.  Mungkin kelincimu banyak mati gara-gara perbedaan suhu ekstrim,”papar temannya.  “Nggak kok, kata temanku, temannya juga ada yang sukses membiakkan di daerah Solo,”  Imbuh Agus.  “Solonya mana Mas?”, papar sang kawan terus mendesak.  Wah aku belum pernah ke sana,” jawab Agus.  Agus terus menginvestasikan modalnya, walau kelincinya senantiasa berguguran.  Modal pun ada batasmya. Pria gigih ini mulai menyadari kebenaran sang kawan.  Ia mulai meragukan kejujuran penyelenggara seminar alias pedagang kelinci.

Saran
–          Mencermati kondisi lingkungan
–          Mencermati latar belakang konsultan / penyedia jasa seminar
–          Mencermati pangsa pasar, pesaing, cara pemasaran dan bentuk pemasaran produk.
 
 Kasus 2
Cacing Berkedok Belut

      Kisah yang mirip disandang oleh Ruli. Pria inipun memiliki latar belakang yang tak berbeda dengan Agus.  Kemandirian finansial adalah cita-citanya.  Kegigihan dan keuletan adalah modal utamanya.  Hanya saja bidang usaha yang ingin ia geluti berbeda.  Sekitar 3 bulan lalu Ruli berantusias menggeluti bisnis beternak belut.  Pria ini pun ikut dalam berbagai seminar beternak belut.  Selama mengikuti seminar, Ruli dianjurkan untuk beternak cacing terlebih dulu.  Menurut instruktur seminar, cacing tersebut dipergunakan sebagai pakan belut.  Bibit dan induk cacing dibeli dari penyelenggara seminar.  Setiap 1 kg cacing dijual seharga Rp 100.000.

Dua kg cacing pun dibelinya.  Berbekal tong plastik bekas ia memulai beternak cacing.  Niat awal beternak belut menjadi terpinggirkan.  Sekitar 2 bulan kemudian, cacing tak kunjung bertambah.  Problem mortalitas cacing mulai menghadang.  Problem ini pun membuat Ruli merasa enggan melanjutkan bisnis belutnya.

Saran
–           Aspek teknis kurang dicermati (hingga saat ini pertenak belut yang benar-benar sukses membiakkan masih sangat jarang.  Bahkan mungkin melum ada)
–          Aspek pakan alternatif tak harus menggunakan cacing yang harus dibeli.
–          Adalah benar pangsa pasar belut itu terbuka lebar. Namun demikian disarankan, agar mencermati, mempelajari dan mewaspadai networking antara penyedia bibit belut, cacing dan penyelenggara seminar.
 
Kasus 3
Fatamorgana Kemiteraan Lobster Air Tawar

      Kasus berikutnya dipikul oleh Mr. T (bukan nama sesungguhnya), di Depok, Jawa Barat.  Ketika demam Lobster air tawar merebak, pria ini pun tergiur janji untung dari penyelenggara seminar.  Hampir sama seperti dengan 2 kasus sebelumnya.  Hanya saja kali ini modusnya adalah kemiteraan.  Usai ikut serta dalam seminar, Mr. T pun tertarik membudidayakan lobster air tawar.  Awalnya ia membeli lobster bukan dari pihak penyelenggara seminar.  Alhasil, saat musim panen tiba lobster hasil farm-nya ditolak oleh pihak penyelenggara seminar.  “Kalau mau jadi pemasok, indukan harus dari kami,” papar Mr. T menirukan peternak lobster sekaligus penyelenggara seminar itu.

Mr. T pun mencoba membeli sepasang Induk lobster dari pihak penyelenggara seminar seharga Rp 1,5 juta.  Berbekal pengalaman memelihara ikan yang dimiliki, Mr. T akhirnya berhasil membiakkan lobter yang ia beli dari tukang seminar itu.  Ia bergegas menawarkan bibit lobster hasil tangkarannya.  Namun, pihak penyelenggara seminar menloaknya.  Dengan alasan pasar anak lobster sedang jenuh.  Sementara peluang pasar terbula lebar untuk lobster ukuran dewasa.  Berbekal sisa rasa optimis yang masih dimiliki, Mr. T membesarkan bibit lobster yang dimiliki.  Tak lama kemudian, ia menawarkan kembali lobsternya.  Hasilnya, sama saja.  Produknya ditolak mentah-mentah.  Alasanya, pasar lobster dewasa sedang jenuh.  Sementara lobster anakan yang banyak diminati.  Alasan tak berbuntut itu membuat kecewa Mr. T.  Bisnis lobster yang sebenarnya berpotensi menjadi dicampakkan.

Saran
–          Adalah benar pangsa pasar lobster ari tawar menjanjikan. Namun demikian disarankan, agar mencermati, mempelajari dan mewaspadai networking dan penyelenggara seminar.
–          Disarankan agar calon pengusaha menemukan end user/ penampung secara pasti terlebih dulu. Bila lobster tersebut dimanfaatkan sebagai bahan baku konsumsi, bukti nyata restoran penyaji lobster aritawar juga harus bisa dipastikan.
–          Menggabungkan usaha ternak lobster air tawar dengan usaha kuliner yang dikelola sendiri lebih aman dan disarankan.
Kasus serupa : Q-sar, Bisnis Jangkerik, dan Bisnis Cacing
 
 
Kasus 4
Dibalik Histeria Pamor Anthurium

       Pertengahan tahun 2006, nama anthurim pernah menjadi sebuah fenomena.  Bagaimana tidak, tanaman berdaun tebal ini pernah dibanderol seharga hingga Milyaran Rupiah.  Tak sedikit orang yang tergiur menggelutinya.  Golongan awam yang sebelumnya tak pernah bersinggungan dengan bisnis tanaman hias pun ikut berebut rejeki dari anthurium.

Banyak pengusaha tanaman yang meraup untung dari tanaman ini.  Namun tak sedikit pula yang buntung puluhan juta rupiah akibat membabibuta terjun berbisnis anthurium.  Bagi mereka yang mengetahui peta dan arah arus tren tanaman hias, bencana kerugian bisa dielakkan.  Namun bagi kaum awam yang hanya membebek, dapat dipastikan menjadi bulan-bulanan bisnis kagetan ini.

Kalau mau mencermati, “epicentrum” tren bisnis anturium tercium pekat di kawasan Jawa Tengah.  Utamanya di kawasan Karang Anyar (Tawangmangu) Jawa Tengah, dan Yogyakarta.  Di kedua lokasi tersebutlah, bisnis anthurium digoreng matang.  Arus perdagangan anthurium mengalir deras menuju kawasan tersebut.  Hal ini mengakibatkan stok anthurium di luar Yogyakarta dan Karanganyar menipis.  Alhasil, harga anthurium pun meroket.  Stok athurium ditimbun oleh sepekulan sekaligus penggoreng bisnis tanaman hias di Karanganyar & Yogyakarta.

Para pemborong sekaligus penggoreng bisnis anthurium itu berhasil menciptakan sebuah isu sekaligus sebuah hysteria.  Massa yang mudah panik menjadi korban empuk.  Mereka adalah para sepekulan, serta golongan pembebek.  Masa yang panik, tanpa pikir panjang akan mengeluarkan uang berapapun besar untuk diinvestasikan.  Histeria ini pun telah berhasil menciptakan pasar semu di bidang bisnis anthurium.  Rata-rata pelaku bisnis ini adalah pedagang.  Sementara Jumlah/persentase end user yang benar-benar menggemari anthurium itu sangat minim.  Perputaran barang hanya berkutat antar pedagang dan spekulan.  Tak ada pasar yang pasti.

Ketika sebagian besar anthurium telah berada di tangan pemborong dan sang “penggoreng” , harga pasar sudah sangat fantastis.  Saat itu pulalah mereka melepaskan satu-persatu anthurium dalam gudang penimbunannya.  Jelas, keberuntungan berpihak kepada mereka.  Laba puluhan bahkan milyaran rupiah memenuhi kantung mereka. Keberuntungan berikutnya berada di tangan mereka yang tepat memanfaatkan tren.  Sementara bagi mereka yang berada di bagian buntut tren, buntunglah yang mereka tuai.

Saat gudang sang pemborong dan sang penggoreng telah kosong, itu berarti athurium telah menyebar kembali di pasar.  Suplai athurium kembali pada posisi semula.  Harga pun pelan-pelan melorot.  Pamor anthurium memudar.  Histeria ini tak sedikit membuat jera bagi pemula yang ingin menekuni bisnis tanaman hias.  Bahkan dampaknya membuat image negatif bisnis tanaman hias. Alhasil, dunia tanaman hias menjadi sepi seperti yang terjadi saat ini.

Saran
–          Mencermati end user.
–          Mencermati arus arah tren (peta tren)
–          Pengalam dan net work dibutuhkan bila ingin ikut sebagai spekulan.
–          Timing harus tepat .  Tak boleh terlambat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s