Asap Cair

Makanan Awet Berkat Limbah Sawit

Masih ingat dengan asap cair? Benda  yang sering disebut liquid smoke ini sudah lama dikenal sebagai pengawet alami.  Namun, peluang besar yang ditawarkan hingga saat ini belum terendus oleh pebisnis.

 

“Menutup pabrik formalin itu bukan sebuah penyelesaian yang bijak.  Apalagi menggerebek penyalahguna formalin.  Yang lebih penting adalah edukasi,” papar Dr. Rosmawi Hasan, M.M. ketua pengawas Induk Koperasi Pasar (Inkopas).  Ia juga mengungkapkan, hampir bisa dipastikan pedagang ayam, tahu, mie dan ikan di pasar 99% menggunakan formalin.  “Lalu apakah mereka harus dikejar-kejar? BPOM bukan polisi.  Namun sebuah lembaga yang seharusnya bisa memberikan edukasi dan solusi,” tandas ketua umum Ketua Partai Merdeka itu.

Asap cair, atau sering juga disebut sebagai cuka kayu sebenarnya sudah lama diperkenalkan.  Namun tak kujung populer. Sudah sejak dulu benda cair berwarna coklat pekat dan beraroma sangit ini “menawarkan diri” sebagai alternatif jalan keluar yang bijak dalam hal pengawetan makanan.  “Sebenarnya sudah lama nenek moyang kita mengenal teknik pengawetan dengan asap,” tutur H. Amril Lubis produsen ikan asapan di Depok, Jawa Barat.

Sudah banyak diuji

Nampaknya bangsa ini kurang peduli terhadap warisan leluhurnya itu.  Akibatnya peluang dari teknologi asap cair luput dari kaca mata pengusaha Indonesia  Pada awal tahun 2006, Dr AH Bambang Setiaji dari FMIPA UGM,  telah memperkenalkan teknologi asap cair sebagai pengawet makanan pengganti formalin.  Dalam waktu yang sama, Sampurno, ketua BPOM periode 2001 – 2006 akan segera menguji kadar kandung racun dalam asap cair temuan UGM tersebut.  Ia juga mengemukakan, asap cair belum diuji klinis, namun ia menjamin bahan pengawet tersebut tidak memiliki efek samping.

Namun buktinya, hingga saat ini penggrebekan penyalahgunaan formalin masih terus berlanjut.  Gaung asap cair dan hasil penelitian dan upaya penelitian lanjutan masih terdengar samar. Kasus ini juga dirasakan oleh Herman Hasan, SH, pengusaha asap cair di Jakarta Pusat.  Ia memulai usaha asap cair 2 tahun lalu.  Bermodal dana sebesar Rp 20 juta, Herman bersama 3 kawannya mulai merintis usaha sebagai perodusen asap cair.  Terlahirlah CV Riko Jaya.  Herman rela meninggalkan bisnis percetakan yang sudah digeluti sejak tahun 1980.  Pria kelahiran Padang, Sumatera Barat 53 tahun silam itu menangkap janji untung dari asap cair.  “Belum banyak yang melirik bidang ini.  Padahal bahannya sangat berlimpah. Kita berpotensi sebagai produsen asap cair terbesar di dunia,” paparnya penuh optimis.

Menurut Herman, pedagang sebenarnya tak butuh pengawet yang mampu mengawetkan makanan berbulan-bulan. Bisa bertahan 3 – 4 hari saja sudah cukup.  Asap cair sudah memenuhi syarat tersebut. “IPB dan UGM telah meneliti. Hasilnya, asap cair  bisa diterapkan untuk makanan.  Penelitian lain dilakukan oleh Badan Penelitian Dan Pengembangan Industri , Departemen Perindustrian,” kata Herman.

Omzet 70 juta

Asap cair ini bersifat multi guna.  Selain bisa digunakan sebagai mengawetkan bakso, tahu, mi juga bisa dimanfaatkan untuk pengusir bau tak sedap. Misalnya : bau limbah pabrik, ruangan, rumah sakit, kendaraan, ruang ber AC.  Bisa mengusir keberadaan nyamuk dan lalat. “Waktu gempa kemarin di Padang, saya kirim 1 ton buat sumbangan.  Juga saat sunami menerjang Aceh kita juga ngirim 10 ton.  Untuk mengurangi aroma busuk korban bencana,” tuturnya.  Asap cair juga bisa dimanfaatkan  sebagai pengawet kayu, cukup direndam saja.  1 liter bisa dierncerkan dengan 15 air.  Perendaman dilakukan selama 3 – 1 bulan.

Saat ini Herman menjual asap cair dalam kemasan botol bervolume 360 ml. Tiap botol dibandrol Rp 8500. Menurutnya, untuk keperluan mengawetkan makanan, sebanyak : 5% dari 360 ml asap cair diencerkan dalam 3 liter air.  Hanya saja sampai saat ini Hasan masih belum berani menjual dagangannya sebagai bahan pengawet makanan.  Ia masih terkendala perizinan dari BPOM.  “Kalau izin dari Departemen Kesehatan sudah ada.  Tapi baru sebatas untuk penghilang bau,” tuturnya.

Strategi pemasaran yang ditempuh: dalam bentuk agen dan retail.  Ia juga memasarkan produknya langsung ke sasaran.  Misalnya ke pasar burung, pasar sayur. Cara pemasaran seperti ini sangat efektif.  Untuk memperluas renang sayp bisnisnya,  ia juga melakukan pemasaran melalui website.

Agen telah tersebar di berbagai kota besar.  Diantaranya Medan, Jakarta, Pontianak, Purwokerto, Kediri dan Manado. Tidak sulit menjadi agen asap cair. Calon peserta menyiapkan company profile.  Minimal order sebanyak 2 ton. Ada 2 dua macam bentuk produk.  Dikemas dalam kardus dan dalam bentuk jeriken 20 literan.  Setiap 1 ton  terdiri dari 200 kardus.  Dalam setiap kardus berisi 14 botol asap cair.  Volume tiap botol 360 ml.  Dalam jangka waktu 3 bulan sudah harus habis.

Dalam kurun waktu 1 bulan CV Riko Jaya bisa menghasilkan 300 ton asap cair.  Produk sebanyak itu bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.  Namun juga diekspor ke luar negeri.  Diantaranya yaitu Jepang, Taiwan, Singapura, Malaysia dan Bangkok. Omzet bulanan yang diperoleh mencapai Rp 70 juta.

Cara pembuatan asap cair sangat sederhana.  Prinsipnya sama dengan penyulingan minyak atsiri.  Bahan baku yang digunakan bermacam-macam.  Tempurung kelapa, cangkang kelapa sawit dan beragam kayu keras.  Bahan lalu dibakar dalam tungku bersuhu 400 – 500ºC.  Asap yang dihasilkan ditampung dan disalurkan melalui pipa yang melewati bak pendingin.  Perubahan suhu secara tiba-tiba itu mengakibatkan pengembunan.  Terciptalah asap cair. Tetesan asap cair ditampung dalam bak.  Sebanyak 300 kg bahan bisa menghasilkan sekitar 85 liter asap cair.  Proses ini memakan waktu sekitar 8 – 10 jam.

Hasil Penelitian BPPI

Pengaruh Cuka Kayu Galam (Melaleuca Cajuput), Akasia (Acacia Mangium), dan Karet (Hevea Brasiliensis) Terhadap Daya Tahan Simpan Ikan Segar(The Effect of The Wood Vinegar on  The Fish Shelf Life)

Penggunaan tiga jenis cuka kayu, yaitu galam, akasia, dan karet telah diteliti pengaruhnya terhadap daya awet ikan bandeng, kembung dan gabus menggunakan metoda perendaman selama lima menit dengan konsentrasi 10%. Setelah dilakukan penyimpanan sampai dua bulan ternyata kondisi ikan tetap baik, tidak ditumbuhi jamur, tekstur padat dan warna putih kekuningan.

Kadar protein ikan  tidak dipengaruhi oleh lama penyimpanan, tetapi dipengaruhi jenis cuka kayu dan jenis ikan. Jumlah E. coli pada ikan awetan lebih kecil dari pada jumlah E.coli sebelum diawetkan dengan cuka kayu. Semakin lama penyimpanan Total Plate Count semakin menurun.Cuka kayu hasil penelitian berwarna kuning kecoklatan sampai coklat kehitaman,  pH  berkisar antara 2,5 – 4,0 dan kadar air antara 97,63 % – 98,86 % serta berbau khas asap. Jumlah senyawa yang terdeteksi pada cuka kayu galam sebanyak 21 senyawa, kayu akasia 36 senyawa dan kayu karet 28 senyawa. Ketiga jenis cuka kayu mengandung tiga senyawa kimia yang sama yaitu acid asetat, Phenol, dan 2-methoxy-Phenol, walaupun konsentrasinya berbeda.

One thought on “Asap Cair

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s