Parit 9

Kepiting Termos, Hangat 2 x 24 jam

 Bicara soal sea food, kepiting adalah rajanya.  Sementara soal sajian kepiting, Parit 9 ahlinya. 

 Bersenjatakan  cara kemas yang unik menggunakan termos, Parit 9 berhasil menjadi raja sea food di bilangan Kota Bandung.  Padahal, Eko Rusdianto, pemilih Parit 9,  bukan dari latar belakang keluarga pedagang dan minim keterampilan memasak.  “Bapak saya bekerja sebagai seorang manteri kesehatan.  Sementara Ibu sebagai seorang Bidan,” papar pria ulet tersebut.  Eko merintis Parit 9 sejak tahun 1997.  Saat itu krisis moneter sedang melanda. “Saat itu usaha yang paling mungkin saya lakukan ya usaha kuliner,”imbuhnya.

Nama parit 9 dipilih untuk mengenang nama tambak udang milik orang tuannya yang berada di Lampung.  Kalau bicara tambak Parit 9, yang dikenal pasti kepiting.  Pasalnya produk utama tambak tersebut adalah kepiting.  Saat telah digunakan sebagai nama restoran pun, masakan utamanya adalah kepiting.

 Menjual sepeda motor

Saat merintis usaha kuliner ini, ia mengaku memiliki suka-duka yang komplit.  Modal terbatas, ilmu juga pas-pasan.  Faktor nekad saat itu yang memaksa Eko menggeluti bidang ini.  Karena rasa syukur, sampai saat ini terus bertahan.  Niat untuk maju yang mengalahkan semuanya.  Keinginan untuk merubah nasib.  Hingga akhirnya dikelola sampai profesional.

Saat itu ia sedang lulus dari perkuliahan.  “Mau cari kerja susah.  Jadi mau tidak mau saya harus bekerja sendiri.  Yang modalnya tidak terlalu besar dan praktis ya bisnis kuliner,” papar Eko.  Modal ia peroleh dari hasil penjualan sepeda motor Honda GL Max seharga Rp 7.250.000.  Uang sebanyak itu dipergunakan untuk membeli kompor, kulkas bekas, tenda dan meja.  Tenaga kerja yang ia karyakan pun masih berasal dari keluarga.  “Saat itu adik saya 2 dan 4 orang pekerja yang lain,” ujarnya.

Masa pahit dialami pada kurun waktu 1997 – 2000.  Saat itu masakan kepiting masih belum populer.  Sehingga masih banyak barang yang dibuang akibat minimnya konsumen saat itu.  “Saya belanja 1 kuwintal, ternyata hanya laku 20 kg,” cetusnya.  Periode itu sempat membuat Eko ingin berhenti.

Saat itu warung tendanya berlokasi di kawasan Sulanjana, Bandung.  Maka, warung tenda dengan hidangan aneka sea food tersebut diberi nama Sulanjana Sea food.  Di temopat itu ia berdagang selama 1,5 tahun.    Kemudian ia berpindah ke Jl. Cendana, Bandung.  Di tempat itu ia juga masih menyewa tempat selama 7 tahun.  Usaha kuliner yang ditekuni terus berkembang.  Hingga pada akhirnya ia berhasil memiliki rumah makan sendiri di Jl Anggrek, Bandung. Jenis makanan sea food dipilih lantaran ia memiliki hobi menyantap masakan sea food.  “Intinya saya ingin terus makan sea food murah  karena bikin sendiri,”  tuturnya sambil tertawa.

Ide bisnis kepiting termos muncul saat ia berpindah ke Jl. Cendana.  Kepiting termos merupakan menu andalan parit 9.  Sajiannya sebenarnya sama dengan sea food pada umumnya.  Hanya saja, kepiting dikemas dalam sebuah termos.  Dengan demikian kehangatan kepiting bisa dipertahankan lebih lama bila dibungkus secara konvesional dengan plastik.

Resep kepiting singapura sebenarnya adalah masakan Indonesia dengan rempah-rempah asli Indonesia.  Saat ini Parit 9 menyajikan sekitar 35 menu sea food.  Awalnya suplai bahan baku berasal dari tambaknya di Lampung.  Namun saat ini, Eko telah memiliki petani mitra yang sanggup memasok bahan baku secara rutin.  Pengaruh cuaca yang tidak menentu membuat Eko tidak mau menggantungkan diri kepada sedikit pemasok bahan baku.  Sekarang ia juga bekerjasama dengan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur.  Saat ini ada sekitar 40 petani ikan, sedangkan petani penyuplai kepiting berjumlah ratusan.

1000 orang / hari

Pada hari-hari biasa Rumah Makan Parit 9 membutuhkan kepiting sebanyak 100- 200 kg kepiting / minggu.  Pemasaran yang dilakukan yaitu menggunakan mulut-kemulut.  Kualitas , harga dan tempat sangat mempengaruhi kesuksesan.  Soal persaingan, Eko tidak begitu mempermasalhkan.  “Sebenarnya justru bahagia melihat semakin marak bisnis sea food di Bandung.  Berarti kesadaran masyarakat kita untuk mengonsumsi makanan sehat semakin bagus,” Eko.

Tips untuk bersaing yaitu kejujuran.  Menyajikan masakan dengan kualitas yang terjamin kesegarannya.  Sebelum dimasak, konsumen bisa memilih sendiri kepiting, ikan dan udang yang ada dalam akuarium dan bak yang berada di dalam restoran.   Soal harga, Parit 9 selalu mendahulukan kepentingan konsumen.  “Misi kita yaitu membuat banyak orang senang makan sea food dengan harga yang terjangkau,” paparnya.  Harga dicantumkan dalam setiap akuarium.  Sehingga pelanggan bisa memprediksikan biaya yang dihabiskan.  Harga yang dicantumkan tersebut sudah berikut harga memasak.

Pengembangan menu berikutnya: menjaga menu-menu yang sudah laku.  Menu baru setiap 1 bulan sekali ditawarkan.  Untuk kepiting termos tidak hanya sebatas kepiting singapura.  Saat Ini pelanggan juga bisa menikmati kepiting kukus.  Kepiting ini dibungkus dengan daun pisang.  Di dalamnya  ditambahkan bumbu rempah-rempah.  Kemudian dibakar sehingga menimbulkan aroma yang menggiurkan.  Saat ini ada sekitar 25 macam olahan kepiting.  Setiap hari jumlah tamu yang berkunjung dapat mencapai 500 – 700 orang.  Sementara pada hari libur dan week end dapat mencapai mendekati angka 1.000 orang.  Saat ini ia belum bertujuan membuka cabang di luar Kota Bandung.  “Untuk sementara waktu Parit 9 biar ada di kota Bandung saja dulu,” paparnya.

Tentang Kepiting Termos

Produk ini merupakan menu andalan Parit 9.  Dijuluki kepiting termos lantaran dikemas dalam termos.  Dalam setiap berisi 3 kg kepiting.  Setiap 3 kg berisi 9 ekor .  Harganya Rp 225.000.  Namun bila dimakan di tempat, setiap 1 porsi dihargai Rp 60.000.  Kepiting soka Rp 8500 per ons,  kepiting telur Rp 7000 per ons,  kepiting banci Rp 6500 per ons, Kepiting isi Rp 5000 per ons. Khusus saus Singapura dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 5000. Kepiting banci banyak diminati lantaran memiliki tekstur daging yang lembut.  Serta banyak mengandung lemak.  Sehingga memiliki aroma yang harum dan bercita rasa gurih.

Saat itu antara Bandung dan Jakarta belum dihubungkan oleh jalan tol.  Namun saat itu tamu yang berdatangan ke warung tenda Parit 9 sudah banyak.  “Selain panasnya tidak bisa bertahan lama, kalau dibungkus pakai plastik itu kurang higienis.  Makanya saya terus pakai termos,”  papar Eko.  Termos dipadukan dengan daun pisang.  Sehingga aromanya bisa tetap dipertahankan. Kepiting termos mampu bertahan 2 x 24 jam.    Untuk mempertahankan aroma, bagian dalam termos dilapisi dengan daun pisang terlebih dulu sebelum kepiting dimasukkan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s