Budidaya Ikan Balita

Siklus Cepat Untung Berlipat

Kalau dijual bibit, ikan emas cuma dihargai Rp 8.000–Rp 12.000/ 1 kg.  Kalau diolah menjadi ikan balita goreng, bisa laku Rp 45.000-Rp 50.000/0,3 kg.

Dari sawah seluas 2.000 m², Agus Abdurahman, peternak ikan di Cianjur mampu menghasilkan ikan emas balita siap konsumsi sebanyak 1 kwintal per bulan.  Jika dihitung secara kasar, dalam sekali panen, Agus mampu meraup omzet sebesar Rp 15 juta setiap bulan. Rezeki melimpah itu merupakan hasil sampingan dari sawah produktif, yang dikelola dengan sistem mina-padi.

Ikan balita sebenarnya adalah istilah yang dikenakan bagi ikan mas yang dipanen saat masih muda.  Dipanen ketika masih berusia 30- 45 hari.  Biasanya ikan mas dipanen pada usia 90 hari atau 3 bulan.  Daging bayi ikan mas ini digunakan sebagai camilan.  Lezat pula bila akan disantap sebagai lauk.  Selain keuntungan berlipat, bisnis ini juga minim risiko. Ikan bisa dipanen lebih cepat. “Kalau dijual sebagai ikan konsumsi, baru bisa dipanen setelah usia 4 bulan.  Tapi kalau dipanen sebagi aikan balita, sudah bisa dipanen pada umur 30 – 35 hari,”  Papar pria berbadan gempal ini.

Biaya produksi pun bisa ditekan. Biaya operasional yang terkonsentrasi (80% lebih) untuk pakan bisa nol. Sebab ikan tidak usah diberi pakan buatan. Benih yang telah ditabur hingga dipanen sepenuhnya hidup dari pakan alami yang terdapat di kolam sawah itu.

Wabah membawa berkah

Permasalahan tak selamanya berdampak kesulitan. Justru bisa berbuah berkah. Setidaknya bagi Agus Abdurahman, petani ikan konsumsi di Cianjur. Pria ramah ini mengaku belajar budidaya ikan konsumsi sejak duduk di bangku sekolah dasar. “Sampai sekarang saya menspesialisasikan diri membudidayakan ikan konsumsi jenis nila dan ikan mas,” ujarnya.

Awalnya, ia menjadi pemasok bibit ikan di Waduk Cirata. Merebaknya wabah virus herpes pada tahun 2002, berdampak pada tersendatnya permintaan benih ikan. Agus lantas melirik masyarakat kota sebagai pangsa pasar pengganti. “Saya  membaca tren gaya hidup sehat sedang dianut oleh masyarakat kota,” terang Agus di sela-sela waktu panen ikan nila balita.

Melalui produk olahan ikan balita, Agus bisa memperoleh banyak keuntungan. Hasil penjualan jelas berlipat dibandingkan dengan penjualan bibit.  Biaya prosuksi jauh lebih irit, risiko usaha lebih kecil, siklus perputaran modal lebih pendek, sehingga untung cepat didapat.

Agus memproduksi dua jenis ikan balita. Ikan mas muda dan bayi ikan nila. Harga terpaut jauh. Ikan nila muda dijual seharga Rp 45.000 / 0,3 kg. Sedangkan bayi ikan mas dihargai Rp 50.000 0,3 kg. Namun, menurut Agus, pemeliharaan bibit ikan nila justru lebih sulit daripada ikan mas. “Jika disebar di sawah, bibit ikan nila sering rusak. Sisiknya banyak yang lepas,” terang Agus.

30-35 hari panen

Pembibitan ikan balita hingga siap dipanen bisa dibagi menjadi dua tahap.  Tahap pertama, pembenihan. Pasangan induk dipijahkan dalam kolam berukuran 2m x 2m.  Kolam sebesar itu diisi 3 ekor (10 kg) induk betina, dan induk pejantan 3 ekor (10 kg). Kolam dilengkapi dengan ijuk, sebagai tempat bertelur. Indukan siap pijah bisa dibeli seharga Rp 25.000 per ekor.

Sekitar 15–20 hari setelah dikawinkan, induk betina menghasilkan benih sebanyak 40 liter. Tiap satu liter berisi benur 6.000 – 6.500 ekor. Kolam pembenihan seluas 200 m² butuh benih sebanyak 1 liter. Jadi kolam seluas 2.000 m² butuh benur sebanyak 10 liter.

Telur ditetaskan dan dipelihara dalam kolam pembenihan sampai usia 15 hari. Tahap berikutnya, pembesaran benur di sawah. Ikan mungil itu dijuluki kebul. Cara budidaya seperti itu sering disebut teknik mina padi. Benih ikan ditaburkan ke sawah saat padi berusia 50 hari.  Melalui cara budidaya seperti ini, Anda bisa mendapatkan 2 keuntungan sekaligus.  Yaitu laba dari budidaya ikan dan laba dari panen padi.  Ikan juga akan membantu memangsa bibit hama.  Kotoranyapun akan menjadi pupuk gratisan bagi tanaman padi.

Sekitar 30 – 45 hari kemudian, bibit ikan siap dipanen.  Setelah ikan emas balita itu berukuran sebesar ibu jari kaki orang dewasa.  Panen ikan dilakukan 10 hari sebelum masa panen padi. Atau setelah 90% gabah sudah menguning.  Padi unggul dipanen setelah berusia 110 hari.  Teknik pemanenan dilakukan dengan jalan mengeringkan petak sawah secara perlahan-lahan.  Ikan balita lalu dipungut.  Pada saat ini gabah belum terlalu tua.  Jadi tak perlu khawatir,  bulirnya tak mudah rontok.

Setelah dipanen, ikan dibersihkan sisik dan isiperutnya.  Setelah itu dicuci bersih, siap di goring atau dibekukan.  Agus memasarkan produknya ke berbagai rumah makan di Bogor , Jakarta dan Tengerang.  Ikan balita dijual dalam bentuk olahan yang sudah dikemas dalam kardus dan dalam bentuk beku.  Menurutnya, kehadiran almari es atau freezer sangat dibutuhkan.  Dengan alat ini, Agus mampu mengatur volume panjualan sesuai dengan permintaan pasar.

Nah, selamat berwira usaha.

 

Dua Produk Olahan

Agus memasarkan dua macam produk ikan balita. Ikan balita olahan siap konsumsi dan ikan balita beku. Menurut Agus, permintaan ikan balita olahan siap saji lebih banyak daripada ikan balita beku.

Produk ikan balita dipasarkan di berbagai supermarket. Juga diminati sebagai hidangan dalam berbagai acara kantor, katering, dan pernikahan.

Ikan balita siap konsumsi dijual dalam bentuk kemasan dus. Tiap kemasan berisi 3 ons ikan balita matang. Produk itu juga dilengkapi sambal terasi dengan cita rasa khas atau saus tomat.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s