Mie Labu

Merebut Peluang Dari Pangan Alternatif

 Kesan tak sehat pada mie instan memang telah terlanjur melekat.  Namun, di tangan Rachman S Said, pebisnis makanan di Jakarta Selatan, mie diproduksi dari bahan kaya serat, mineral dan vitamin.  Pria berdarah Madura ini meramu Mie instan berbahan sayuran.  Labu, wortel dan ubi.

 

Idenya, muncul dari sebuah idealisme memanfaatkan bahan baku yang berlimpah dan murah harganya.  Dari tangan petani, buah ini dijual seharga Rp 3.500 – 4.000 / kg.  “Labu bisa ditemukan di banyak tempat, mudah tumbuh dan harganya murah.  Belum banyak orang yang melirik potensi tanaman ini,” tutur pria yang akrab dipanggil Rachman tersebut.

Labu dikenal sebagai tanaman sela.  Dibudidayakan pada saat musim paceklik atau musim kering.  Produktifitasnya sangat tinggi.  Lahan seluas 1 ha, mampu menghasilkan labu sebanyak 40 ton.  Setiap1 batang tanaman labu mampu menghasilkan 5 butir buah.  Setiap buah berbobot 6 – 8 kg. Potensi lain yang dimiliki tanaman labu yakni, bandel dan tak butuh perawatan yang rumit.  Sehingga tidak memakan biaya perawatan yang banyak.

Modal patungan

Berkat labu, bisa lebih menekan impor gandum.  Kebutuhan gandum nasional saat ini mencapai 4,5 – 5 juta ton / tahun. Melalui penelitian yang pernah ia lakukan, berhasil ditemukan formula mie berbahan labu yang tepat.  Sehingga citarasanya digemari konsumen.  Mie labu dibuat berbahan campuran terigu dengan tepung labu.  Konsentrasinya 50 % : 50%. Labu mengandung unsur Selenium yang berguna untuk mengendalikan berat badan.Selain itu, kandungan gizi labu lebih lengkap dibanding tepung terigu.  Sehingga tidak perlu difortifikasi (dilengkapi) lagi layaknya tepung terigu.

Tahun 2001 Rahman merealisasikan idealisme itu menjadi sebuah bisnis.  Berawal dari kebun sendiri seluas 1.000 m² yang berlokasi di Cicurug, Bogor. Bersama dengan 4 orang kawannya, Rahman melakukan penelitian untuk menciptakan produk berbahanbaku labu.  Akhirnya terciptalah mie labu.  Pada pertengahan tahun 2006 produk diluncurkan dalam sebuah pameran yang diselenggarakan oleh Departemen Perindustrian. Dalam pameran tersebut, mie labu diminati banyak penunjung.

Usai pameran, niat membesarkan usaha muncul.  Untuk memenuhi suplai bahan baku, Rahman bekerjasama dengan petani labu.  “Saat itu kami mengumpulkan modal secara patungan. Kira-kira Rp 200 juta besar modal itu,” kata lulusan Fakultas Teknologi Hasil Pertanian IPB itu.  Modal sebanyak itu digunakan untuk membeli 5 buah mesin.  Dengan bantuan teknologi, Rahman dan kawan mampu memproduksi mie sebanyak 10.000 – 20.000 bungkus / bulan.  Setiap bungkus dijual seharga Rp 4.000.  Dengan demikian, bila dihitung, omzet yang bisa diraup sebesar Rp 40 – 80 juta / bulan.

Bergizi Tinggi

Mie berbahan labu ini ia beri nama bumie.  Singkatan dari labu mie.  Citarasanya tak kalah dengan mie berbahan baku tepung terigu.  Bumie berwarna kuning cerah.  Lebih menyolok daripada mie terigu.  “Warna kuning itu sama sekali bukan karena bahan pewarna.  Tapi karena sejak awal bahan bakunya berwarna kuning,” imbuhnya.  Menurut hasil penelitian, warna jingga pada daging labi mengindikasikan bahwa buah tersebut banyak mengandung betakarotin.  Zat yang berfungsi sebagai abtioksidan yang mampu mencegah terjadinya penyakit kanker.

Untuk menambah kelezatan, di dalam setiap kemasan dilengkapi dengan bumbu yang diramu dari bahan alami.  Yang jelas, produk ini tanpa MSG.  Tak lupa Rahman juga menyisipkan sayuran kering yang diwadahi dalam plastik kecil.  Mie labu juga diklaim sebagai produk yang rendah kolesterol.

Untuk menarik konsumen, kemasan di desain eksklusif.  Tidak sekadar di bungkus dalam plastik seperti produk mie isntan pada umumnya.  Melainkan dikemas dalam kemasan karton berbentuk gelas.  Mirip seperti kemasan pop corn.  “Saya kemas seperti ini supaya “image” orang tak menganggap mie instan sebagai makanan murahan,” tutur Rachman.

Selama ini cara pemasaran yang dilakukan yakni melalui berbagai pameran.  “Target utama kami adalah mencari investor. Kami belum terlalu menggenjot produk.  Masih konsentrasi kepada masalah sosialisasi produk. ,” pengakuan mantan karyawan Bank Bumi Daya, yang mengalami pensiun dini pada tahun 1998 karena terjadi krisis moneter.

Olahan kreatif dari labu yang lain

  1. Stick labu
  2. Sirup labu
  3. Selai labu
  4. Manisan labu
  5. Nuget labu
  6. Kue Bika Labu

Labu Vs Gandum

Labu                                    Gandum

Harga / kg :           Rp 3.500 – 4.500                 Rp 7.635 – 8,000

Fluktuasi harga      Relatif stabil                         Cenderung semakin melonjak

Pasokan                 Stabil, dengan catatan          Cenderung fluktuatif

bekerjasama dengan petani

Fortifikasi              Tidak perlu                           Perlu

Pewarna                Tidak perlu                           Perlu

Asal produk          Lokal                                    Impor

Kandungan Gizi Labu Kuning (per 100 g)

1. Kalori 29,00 kal
2. Protein 1,10 g
3. Lemak 0,30 g
4. Hidrat arang 6,60 g
5. Kalsium 45,00 g
6. Fosfor 64,00 g
7. Zat besi 1,40 mg
8. Vitamin A 180,00 Sl
9. Vitamin B1 0,08 mg
10. Vitamin C 52,00 g
11. Air 91,20 g

 

18 thoughts on “Mie Labu

    • Terimakasih sudah berkenan berkunjung di blog Ini. Untuk produsen Mie Labu, Ibu bisa menghubungi Ir. Rachman Saleh Said, MBA. PT. Rancang Kinerja Rekayasa Prakarsa. Jl. Pasar Minggu. Komp. Garuda Indonesia No. 21, Jakarta Selatan. Telp (021) 739 6370, HP: 0817 703993. Fax. (021) 798 5030.

      Untuk mengikuti terus/ berlangganan kabar di Lumbung Usaha. mohon mengaktifkan RRS feed Ibu,

      Salam Sukses
      Franz JB

    • Terimakasih sudah berkenan berkunjung di blog Ini. Untuk produsen Mie Labu, Ibu bisa menghubungi Ir. Rachman Saleh Said, MBA. PT. Rancang Kinerja Rekayasa Prakarsa. Jl. Pasar Minggu. Komp. Garuda Indonesia No. 21, Jakarta Selatan. Telp (021) 739 6370, HP: 0817 703993. Fax. (021) 798 5030.

      Untuk mengikuti terus/ berlangganan kabar di Lumbung Usaha. mohon mengaktifkan RRS feed Ibu,

    • Terimakasih sudah berkenan berkunjung di blog Ini. Untuk produsen Mie Labu, Ibu bisa menghubungi Ir. Rachman Saleh Said, MBA. PT. Rancang Kinerja Rekayasa Prakarsa. Jl. Pasar Minggu. Komp. Garuda Indonesia No. 21, Jakarta Selatan. Telp (021) 739 6370, HP: 0817 703993. Fax. (021) 798 5030.

      Untuk mengikuti terus/ berlangganan kabar di Lumbung Usaha. mohon mengaktifkan RRS feed Ibu,

      Salam Sukses
      Franz JB

  1. Menarik sekali hasil sebuah kreasi yg tak ternilai….sarana promosi SDA Indonesia yg kaya akan hasil pertanian. Perlu pengembangan & pemasaran yg terus menerus. Salut buat Bp.. Rachman…. Kami berminat untuk turut ikut mengembangkan produk mie labu, dengan ikut memasarkan untuk wilayah Tuban dan sekitarnya. Bagaimana prosedur & harga dan min order yang ditentukan bpk ? Trmkasih. Salam, Retno

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s