Boneka Perca Batik

Bisnis Kain Rombeng Beromzet Puluhan Juta Rupiah

Ketika tren batik merebak, produk bercorak batik bukan sebatas baju dan tas saja.  Boneka perca batik juga menjadi peluang bisnis yang layak dilirik.  Pangsa pasarnya terbuka lebar.

Tak ada yang sama persis, justru itu menjadi letak unik produk boneka perca batik ini.  Selain menawarkan model dan bentuk yang beraneka ragam, boneka perca batik juga memberikan banyak corak, motif dan warna.  “Batik sendiri kan motifnya ada banyak, jadi ini membuat kami bisa berkreasi secara bebas dan mudah,” tutur Endang Wahyudi, S.S salah satu pengembang usaha boneka perca batik di Nusukan, Solo, Jawa Tengah.  Ragam corak, warna dan bentuk itu juga memberikan potensi bisnis yang semaikn besar.  Pasalnya, produsen dapat memberikan banyak pilihan kepada konsumen.

Wanita yang akrab dipanggil Endang  ini memulai usaha sejak 2 tahun silam.  “Sekitar 2 tahun sebelumnya saya sudah memulai usaha di bidang batik, tapi masih memproduksi tas batik. Dua tahun berikutnya saya memproduksi boneka perca batik,” kata Endang.  Keterampilan menjahit dan memilih bahan baku kain batik diperoleh ketika ia masih ikut atau bekerja dengan orang lain. Melihat sisa-sisa kain batik dari usah tasnya, wanita berusia 40 tahun ini terusik untuk memenfaatkannya.  “Lalu saya iseng-iseng buat boneka. Ternyata hasilnya lumayan dan dipesan orang,” tutur Ibu berasal dari Solo itu.

Seabrek model

Pengembangan usaha ini ternyata tidak sia-sia.  Boneka batik yang diproduksi mendapatkan tanggapan pasar yang bagus.  Pangsa pasarnya saat ini untuk dalam negeri di Bali dan Jakarta. Belum melakukan ekspor karena terkendala kapasitas oproduksi.  Dalam 1 hari, Endang dapat memproduksi boneka sebanyak 30 buah dalam berbagai model dan ukuran.  Boneka perca batik berukuran besar diantaranya didesain berbentuk kuda, kera, badak, gajah.  Ada sekitar 15 model.  Boneka perca berukuran besar umumnya dipergunakan sebagai bantal tidur anak-anak dan bantal hias di meja tamu.  Sementara boneka perca batik berukuran kecil digunakan sebagai gantungan kunci. “Saya memproduksi sekitar 25 model,” papar Endang.

Harga boneka ini bervariasi .  Berkisar antara Rp 65.000 – 90.000.  Tergantung ukuran , bentuk dan modelnya. Boneka bantal kura-kura besar dijual Rp 90.000, sedangkan boneka jerapah dibandrol Rp 75.000.  Harga lebih murah untuk boneka gajah, badak dan kera berukuran kedang , dijual Rp 65.000. Rata-rata dia dapat menjual 400 boneka / bulan.    Jadi kalau dihitung-hitung, dengan harga boneka Rp 65.000, Endang mampu meraup omzet Rp 26.000.000 / bulan untuk produk boneka perca batiknya. Endang juga mengatakan, boneka berukuran besar banyak diminati.  Misalnya: jerapah, kera, kura-kura, dan kanguru.

Endang memperoleh inspirasi model dari lihat boneka yang dijual di toko.  Kemudian ia mereka-reka bila dibuat dari kain batik. Sementara untuk mengisi bagian dalam boneka ini, Endang menggunakan kain dakron.  Untuk membuat boneka berukuran sedang, dibutuhkan kain dakron sebanyak 1 kg.  Pengusaha kreatif ini  juga melakukan inovasi dalam hal penmanfaatan bahan alternatif pengisi boneka. Beberapa boneka berukuran kecil disi dengan pasir. Pasir harganya lebih murah dibandingkan dengan kain dakron. Boneka berisi pasir lebih berat dibanding boneka berisi kain dakron.  “Yang diisi pasir itu banyak dipesan untuk penindih kertas dan arsip di meja kerja,” kata Endang.

Dipilih serat lurus

Semua jenis kain batik bisa digunakan untuk membuat boneka.  Hanya saja yang harus diperhatikan ketika memilih yaitu arah seratnya.  Sebaiknya dipilih kain batik yang dipotong lurus.  Kain perca batik semacam ini memiliki arah serat lurus.  “Kalau arahnya miring, sulit dijahit.  Jadi tidak rapi karena sering mengerut,” papar pengusaha berkacamata itu. Kain berserat miring masih tetap bisa digunakan, hanya saja posisi pemasangannya harus diperhatikan.

Saat ini Endang menjajakan boneka perca batiknya langsung kepada end user.  Menurut penuturannya, ia masih terkendala oleh keterbatasan kapasitas produksi.   Untuk menambah jumlah produksi, Endang bekerjasama dengan penjahit.  Ada 7 orang penjahit yang bekerjasama dengan saya,” katanya. Untuk mengorder jahitan, Endang hanya tinggal menyodorkan model boneka yang akan dibuat beserta kain batik  dan bahan pendukung lain yang diperlukan kepada penjahit.  Ide model muncul 2 arah.  Tidak hanya berdasar pesanan dari Endang, penjahitpun sering menyodorkan model baru kepada Endang.  Sebelum dibuat, penjahit itu akan membuat polanya terlebih dulu.  Kemudian meminta persetujuan kepada Endang untuk membuatnya.  Bila disetujui, maka boneka batik perca model baru itu segera diproduksi.

Persaingan bisnis boneka perca batik belum terasa.  Menurutnya, boneka perca batik masih tergolong produk baru.  Sehingga ceruk pasarnya masih terbuka lebar.  Terutama pangsa pasar ekspor. Turis manca negara sangat menggemari kerajinan seperti ini.  Utamanya turis dari Jepang.  “Dulu pernah ada tamu dari Jepang datang ke show room saya. Langsung ia memilih dan memborong dalam jumlah banyak,” tuturnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s